Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tuberkulosis Sulit Dikendalikan, Peran Tenaga Kefarmasian Dibutuhkan

📅 Sabtu, 25 Mar 2023, 10:45 WIB | Oleh: Tim Penulis

Studi di Pakistan menunjukkan keberhasilan tenaga kefarmasian dalam penemuan kasus TB di masyarakat. Dari 500 apotek yang terlibat, sebanyak 1.901 pengunjung apotek telah dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan TB lanjutan.

Dari total rujukan tersebut, sebanyak 547 pengunjung dinyatakan positif TB melalui pemeriksaan lanjutan tersebut.

Selain itu, studi di Amerika Serikat (AS) menunjukkan keberhasilan tenaga kefarmasian dalam pelayanan uji tuberkulin untuk memberikan akses yang mudah bagi masyarakat dalam pemeriksaan TB laten.

Sebanyak 94 apoteker yang dilatih secara intensif berhasil melakukan tes tuberkulin terhadap 578 orang dan 92,73% pasien tersebut berhasil kembali lagi untuk pembacaan hasil tes.

Dalam praktik kolaborasi dalam penyelesaian pengobatan, studi di AS menunjukkan keberhasilan tenaga kefarmasian untuk terlibat dalam meningkatkan penyelesaian pengobatan pasien TB laten.

Dari 40 pasien TB laten yang dimonitor oleh apoteker, tercatat 398 kali kunjungan konsultasi tatap muka antara pasien dan apoteker.

Studi tersebut menunjukkan 75% pasien berhasil menyelesaikan pengobatannya. Sisanya mengalami penghentian pengobatan akibat efek samping obat yang di deteksi oleh apoteker dan dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk tindakan lebih lanjut.

Hal yang menarik juga adalah keterlibatan apoteker berhasil menghemat waktu dari tenaga kesehatan publik (puskesmas) dalam penanganan pasien TB laten sebanyak 143 jam. Ini terjadi karena adanya kolaborasi praktik dengan tenaga kefarmasian di sektor swasta.

Pada setting rumah sakit, model pelayanan kefarmasian mencakup aktivitas mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan terkait dengan obat, seperti ketidaktepatan jenis obat dan dosis, kejadian efek samping obat, adanya interaksi obat, dan ketidakpatuhan pengobatan.

Pelayanan-pelayanan tersebut melibatkan aktivitas kolaborasi bersama tim medis di rumah sakit. Aktivitasnya meliputi monitoring pengobatan, konsultasi obat, informasi, dan edukasi pasien TB baik yang bersifat tatap muka atau pun melalui media komunikasi (telepon, internet).

Studi di Brazil menunjukkan kemampuan apoteker rumah sakit dalam mengidentfikasi 128 kejadian terkait dengan permasalahan dengan pengobatan pada 62 pasien TB yang dimonitor.

Permasalahan yang ditemukan meliputi adanya pengobatan yang tidak perlu digunakan, perlunya penambahan jenis obat, dosis terlalu rendah, kejadian reaksi obat tidak dikehendaki dan ketidakpatuhan pengobatan.

Sebanyak 115 intervensi atas permasalahan tersebut dilakukan oleh apoteker yang menunjukkan mayoritas intervensi berdampak pada hasil yang positif terhadap luaran pengobatan pasien TB.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Sentimen The Fed Masih Domi...
Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.