Produksi Ikan Melimpah, Penurunan ‘Stunting’ Lambat, Ada Apa Ini?
📅 Senin, 06 Mar 2023, 12:18 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Mohammad Ayudha
Andriana Lisnasari, Badan Pusat Statistik
Angka anak yang mengalami gangguan pertumbuhan (stunting) di Indonesia, menurut survei terbaru, turun sedikit dari 24,4% pada 2021 ke 21,6% pada 2022. Angka tersebut masih di atas batas maksimal dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 20%.
Tahun depan, pemerintah menargetkan angka stunting tinggal 14%. Ini sebuah target yang ambisius jika kita melihat tren penurunan per tahun hanya sekitar 2-3%.
Tingginya angka stunting itu sebenarnya menyesakkan dada. Sebab, laporan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada 2020 menunjukkan produksi ikan laut tangkap Indonesia amat besar, sekitar 6,43 juta ton. Angka ini menempati urutan kedua setelah Cina (11,77 juta ton) di tingkat global.
Masalahnya, data 2017 menyatakan konsumsi ikan Indonesia hanya 44,7 kg per kapita per tahun, lebih rendah dari Malaysia (57,8 kg per kapita per tahun). Sementara itu, pada kenyataannya Malaysia adalah negara tujuan utama ekspor ikan (segar) hasil tangkap Idonesia dengan volume terbesar selama 10 tahun terakhir. Sejak 2019, ekspor ikan ke Malaysia mencapai lebih dari 50% total ekspor ikan Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Produksi ikan yang melimpah di negeri ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menurunkan angka stunting dengan meningkatkan konsumsi ikan masyarakat.
Kurang Protein Hewani
Stunting merupakan kondisi anak yang pendek atau sangat pendek berdasarkan tinggi badan menurut usia (TB/U) yang kurang dari standar WHO.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apabila indeks TB/U berada dalam rentang -2 SD (standar deviasi) sampai +3 SD maka anak tersebut memiliki kondisi normal. Pertumbuhaan anak tergolong tidak normal (stunted) jika indeks TB/U kurang dari -2 SD. Ini terjadi karena asupan nutrisi yang tidak memadai dan infeksi berulang dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Misalnya, bayi laki-laki usia 36 bulan memiliki tinggi badan 84 cm, maka berdasarkan tabel standar indeks TB/U WHO, anak tersebut memiliki indeks TB/U yaitu -3, yang berarti masuk dalam golongan pendek (stunted).h
Salah satu penyebab utama stunting adalah tidak terpenuhinya asupan gizi yang cukup baik pada ibu saat mengandung janin atau pun pada saat anak usia balita. Protein merupakan salah satu unsur penting yang dibutuhkan oleh tubuh dan dapat dipenuhi dari sumber protein nabati serta hewani.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat konsumsi protein harian per kapita sebesar 62,21 gram. Tren ini stagnan sejak 2019-bahkan menurun jika dibandingkan pada 2018 yang sempat mencapai 64,64 gram.
Jika kita melihat jenis sumber protein, konsumsi protein hewani Indonesia masih tergolong rendah. Konsumsi ikan per hari per kapita sebesar 9,58 gram, daging 4,79 gram, serta telur dan susu sebesar 3,7 gram.
Ikan Sumber Protein Hewani
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!