Produksi Ikan Melimpah, Penurunan ‘Stunting’ Lambat, Ada Apa Ini?
📅 Senin, 06 Mar 2023, 12:18 WIB | Oleh: Tim PenulisKonsumsi pangan dari protein hewani lebih dari satu jenis lebih menguntungkan daripada konsumsi satu jenis pangan hewani. Kebanyakan masyarakat mencukupi kebutuhan protein hewani dari daging, telur, atau susu. Ikan yang juga termasuk sebagai salah satu sumber protein hewani, masih belum familiar untuk seluruh kalangan masyarakat.
Tingkat konsumsi ikan, menurut riset, untuk suku Sunda mencapai 7,2% dan suku Bugis 15,9% walau sama-sama tinggal di sekitar Waduk Cirata Cianjur Jawa Barat. Ini berarti suku Bugis dengan latar belakang sejarah sebagai kelompok pelaut memiliki budaya makan ikan yang lebih tinggi.
Selain itu, masih ada anggapan di masyarakat bahwa ikan adalah sumber penyebab cacingan, alergi, meningkatkan kolesterol, dan kandungan logam berat.
Padahal, ikan memiliki banyak kandungan protein untuk mencukupi kebutuhan asam amino. Ikan juga kaya akan asam lemak omega 3 yang lebih unggul dibanding hewan ternak lain seperti ayam, sapi, dan kambing, vitamin, serta berbagai mineral bermanfaat untuk kesehatan ibu dan perkembangan janin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Guru besar ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Hardiansyah menganjurkan agar ibu hamil mengkonsumsi ikan setidaknya 150 gram per hari, minimal 4 kali dalam seminggu untuk mencegah anak lahir stunting.
Data Angka Konsumsi Ikan (AKI) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan konsumsi ikan nasional pada 2021 mencapai 55,37 kg per kapita per tahun meningkat dari 54,56 kg pada 2020.
Pada level provinsi, AKI tertinggi pada 2021 dimiliki oleh Provinsi Maluku (77,49 kg), lalu Maluku Utara (75,75 kg), dan selanjutnya Kalimantan Utara (73,94 kg).
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, AKI terendah ada di Yogyakarta (34,82 kg), Lampung (36,66 kg), dan Jawa Tengah (36,74 kg). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi ikan di Indonesia masih belum merata di semua wilayah.
Beberapa wilayah, khususnya Pulau Jawa masih memilki AKI yang rendah, dengan DKI Jakarta memiliki AKI tertinggi di Pulau Jawa, yakni 48,92 kg.
Sementara itu, produksi ikan laut tertinggi di Indonesia tahun 2021 yaitu Maluku (547,46 ribu ton), Jawa Timur (534,39 ribu ton), dan Sulawesi Selatan (376,12 ribu ton).
Melihat kondisi tersebut, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi ikan laut melimpah seharusnya berbanding lurus dengan tingkat konsumsi ikan yang tinggi pula.
Sayangnya hal itu belum terealisasi sehingga masih ada celah yang harus dibenahi oleh pemerintah, yakni kebutuhan peningkatan konsumsi protein untuk pencegahan stunting, dengan kondisi produksi ikan yang berlimpah tapi konsumsinya masih rendah dan belum merata.
Kendala utama dalam permasalahan tersebut adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi ikan padahal negara kita memiliki potensi produksi ikan yang tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!