Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Profesor Termuda Cambridge University Ternyata Tidak Bisa Menulis dan Membaca Sampai Usia 18 Tahun

📅 Senin, 27 Feb 2023, 21:02 WIB | Oleh:
Profesor Termuda Cambridge University Ternyata Tidak Bisa Menulis dan Membaca Sampai Usia 18 Tahun Doc: BBC/PROF JASON ARDAY

LONDON - Meski belum bisa berbicara, Jason kecil selalu memiliki pertanyaan tentang dunia di sekitarnya.

"Mengapa ada orang yang tidak punya rumah dan hidup di jalan?" dia ingat pernah menanyakan itu. "Mengapa ada perang?"

Lahir dan besar di Clapham, di barat daya Kota London, Profesor Arday yang seorang sosiolog berkata beberapa momen terpenting dalam hidupnya adalah menyaksikan Nelson Mandela dibebaskan dari penjara dan melihat kemenangan simbolis Afrika Selatan di Piala Dunia Rugby pada 1995.

Dia mengingat bagaimana dirinya sangat tergerak oleh penderitaan orang lain dan merasakan dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu.

"Saya berpikir, kalau saya tidak bisa menjadi pemain sepak bola atau pemain snooker profesional, maka saya akan mencoba menyelamatkan dunia," kata dia.

Ibu Jason berperan besar dalam mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuannya. Dia-lah yang memperkenalkannya dengan berbagai macam musik dengan harapan ini akan membantu Jason dengan konseptualisasi bahasa.

Semua musik ini belakangan kemudian menarik minatnya akan budaya populer yang mewarnai beberapa penelitiannya.

Didukung oleh mentor, tutor sekolah, dan temannya Sandro Sandri, Profesor Arday akhirnya mulai membaca dan menulis di usia akhir belasan tahun.

Dia lalu belajar Edukasi Fisik dan Studi Pendidikan di Universitas Surrey sebelum mengambil pelatihan untuk menjadi guru olah raga.

Tumbuh di area yang relatif miskin kemudian bekerja sebagai guru sekolah, kata dia, telah memberinya pengalaman langsung dalam merasakan ketimpangan sistemik yang dialami anak-anak muda dengan etnis minoritas dalam pendidikan.

Di usia 22 tahun, Profesor Arday tertarik dengan gagasan untuk menempuh pendidikan pascasarjana dan mendiskusikannya dengan sang mentor.

"Sandro berkata, 'Saya yakin kamu bisa - Saya yakin kita bisa mengalahkan dunia dan menang'," ujar dia. "Kalau saya ingat-ingat lagi, itulah pertama kalinya saya benar-benar percaya pada diri saya sendiri. Banyak akademisi yang mengatakan mereka tak sengaja masuk ke dunia ini, tapi bagi saya, momen itu adalah awal keyakinan dan saya sangat fokus - saya tahu ini adalah tujuan hidup saya," imbuh dia.

Belajar menjadi seorang akademisi ternyata sangat sulit, kata Arday, terutama karena dia tak punya banyak pengalaman atau pelatihan untuk melakukannya.

Di siang hari, Profesor Arday bekerja sebagai guru olah raga di sekolah menengah atas. Di malam hari, dia menghabiskan waktu untuk membuat makalah akademik dan belajar sosiologi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Perubahan Cuaca Benarkah Dapat Mengakibatkan Infeksi?

35 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Perubahan Cuaca Benarkah Da...
Megapolitan
Pembangunan SDM dan Pengemb...

Pantai Harus Tampak Indah, tak Boleh Kumuh

43 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pantai Harus Tampak Indah, ...
Megapolitan
Hadapi Musim Kemarau Panjan...

Kamar Kos Jadi Lokasi Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Mahasiswi

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Kamar Kos Jadi Lokasi Rekon...

Dua Petenis Terus Bersaing Menuju Nomor Satu Dunia

58 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Dua Petenis Terus Bersaing ...
Olahraga
Indonesia Turun Full Team B...
Megapolitan
Kapal Kandas karena Air Sur...

Pengembangan Produksi Tebu Terus Digencarkan

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pengembangan Produksi Tebu ...
Megapolitan
Kewajiban Warga Menunaikan ...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.