Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Profesor Termuda Cambridge University Ternyata Tidak Bisa Menulis dan Membaca Sampai Usia 18 Tahun

📅 Senin, 27 Feb 2023, 21:02 WIB | Oleh:

"Ketika saya pertama kali mulai menulis makalah akademik, saya tidak tahu apa yang saya lakukan," ujar dia. "Saya tidak punya mentor dan tidak ada yang menunjukkan kepada saya cara menulisnya. Semua makalah yang saya ajukan ditolak dengan kasar. Proses peninjauan sejawat sangat kejam, sampai cenderung lucu, tapi saya menganggapnya sebagai pengalaman belajar, dan anehnya, saya mulai menikmatinya," ututr dia.

Profesor Arday kemudian berhasil mendapatkan dua gelar master dan PhD di bidang Studi Pendidikan.

Saat ditanya kapan dia menyadari dirinya adalah seorang sosiolog, dia mengatakan sekitar 2015. "Saya menyadari inilah yang seharusnya saya lakukan."

Delapan tahun kemudian, dia akan dikukuhkan sebagai profesor sosiologi pendidikan di Cambridge.

Saat ini, ada lima profesor kulit hitam di univeritas tersebut. Angka resmi dari Badan Statistik Pendidikan Tinggi menunjukkan, pada tahun 2021, hanya 155 dari lebih dari 23.000 profesor universitas di Inggris Raya yang berkulit hitam.

Memulai peran barunya sebagai profesor pada 6 Maret nanti, Profesor Arday berniat meningkatkan representasi etnis minoritas di perguruan tinggi.

"Pekerjaan saya akan fokus pada bagaimana kita dapat membuka pintu bagi lebih banyak orang dari latar belakang yang kurang beruntung dan benar-benar mendemokratisasikan pendidikan tinggi," kata dia.

Pada 2018, Profesor Arday menerbitkan makalah pertamanya dan mendapatkan jabatan dosen senior di Universitas Roehampton sebelum pindah ke Universitas Durham, di mana dia menjadi profesor sosiologi.

Pada 2021, ia menjadi profesor sosiologi pendidikan di Fakultas Pendidikan Universitas Glasgow, menjadikannya, pada saat itu, salah satu profesor termuda di Inggris.

"Semoga berada di tempat seperti Cambridge akan memberi saya pengaruh untuk memimpin agenda itu secara nasional dan global," kata dia. "Membicarakannya adalah satu hal; melakukan itu yang penting," imbuh dia.

Dalam karyanya saat ini tentang neurodivergence dan mahasiswa kulit hitam, dia bekerja sama dengan Dr Chantelle Lewis dari Universitas Oxford.

"Cambridge telah membuat perubahan signifikan dan telah mencapai beberapa pencapaian penting dalam upaya mendiversifikasi pendidikan," kata Profesor Arday. "Tapi masih banyak yang harus dilakukan - di sini dan di seluruh sektor. Universitas ini memiliki orang-orang dan sumber daya yang luar biasa; tantangannya adalah bagaimana kami menggunakan modal itu untuk meningkatkan berbagai hal untuk semua orang dan bukan hanya bagi segelintir kalangan. Melakukan hal ini dengan benar adalah sebuah seni - membutuhkan diplomasi nyata dan setiap orang harus merasa terinspirasi untuk bekerja sama. Jika kita ingin menjadikan pendidikan lebih inklusif, alat terbaik yang kita miliki adalah solidaritas, pengertian, dan cinta," papar dia. BBC/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Gempa Magnitudo 5,3 Goyang ...
Nasional
BMKG Keluarkan Peringatan D...
Megapolitan
Polisi Gelar Rekayasa Lalin...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.