Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gunung Berapi di Indonesia Berisiko Memicu Kekacauan Dunia Lewat Selat Malaka

📅 Minggu, 29 Jan 2023, 20:38 WIB | Oleh:

Angka itu membuat perkiraan 5 miliar dollar AS (75 triliun rupiah) yang hilang dari ekonomi global akibat letusan VEI4 di Gunung Eyjafjallajökull, Islandia, menjadi begitu kecil.

Letusan VEI4 terakhir Merapi terjadi pada 2010. Letusan VEI6 di Merapi kemungkinannya lebih rendah karena merupakan periode ulang, dengan perkiraan waktu rata-rata antar letusan adalah 750 tahun.

Namun, taruhannya cukup tinggi untuk menentukan prospek secara serius, kata Lara Mani, ahli vulkanologi di Pusat Studi Risiko Eksistensial Universitas Cambridge.

Merapi adalah salah satu dari beberapa gunung berapi aktif di wilayah tersebut. Letusan VEI4, VEI5 dan VEI6, kata Mani, bisa benar-benar mengganggu selat. Dan masalahnya, saat gunung berapi mulai beraktivitas, ia tidak memberi tahu Anda kapan akan berhenti.

Bayangkan salah satu gunung berapi aktif - seperti Semeru di Jawa, Indonesia - menghasilkan letusan yang masuk ke level VEI5 atau VEI6. Magma menyembur dari kawah. Abunya menyebar ke langit. Getarannya mengguncang kota-kota setempat. Jika angin mengarah ke barat daya, semua lalu lintas udara di Selat Malaka dihentikan. Abu juga jatuh ke selat itu. Batu apung dalam jumlah besar menumpuk di permukaan laut.

Gempa besar dan relatif dekat akan menjadi ancaman dengan skala yang sama. Ini dapat memicu tsunami yang menghantam selat, seperti Boxing Day tsunami pada 2004.

Itu juga akan menyebabkan arus bawah air mengalir deras karena berat sedimen yang dibawanya - sedimen-sedimen yang bergerak cepat dan tercampur - yang membelah dasar laut.

"Itu biasanya bisa memutuskan kabel," kata Mani seperti dilansir kantor berita BBC pada akhir pekaan lalu.

Dalam letusan Tonga, letusan VEI5 Hunga Tonga-Hunga Ha'apai pada Januari 2022, arus sedimen itulah yang memutus kabel, menyebabkan pemadaman internet regional. Arus yang membawa sedimen-sedimen itu juga mengubur kabel-kabel, membuat pemulihannya semakin sulit.

Sisi baiknya, bencana alam ini tidak begitu berdampak pada pengiriman global, jika dibandingkan dengan dampak Ever Given, kata Tristan Smith dari University College London.

Smith, seorang ahli perkapalan di institut energi di universitasnya, mengatakan bahwa mesin kapal harus mampu menghadapi abu.

Sementara untuk tingkat berbahayanya, tsunami lebih berbahaya bagi orang-orang di darat, tempat gelombang pecah dan paling besar, daripada di laut. Dan mungkin dalam kasus letusan, zona eksklusi akan diumumkan, memaksa kapal-kapal mengambil rute yang berbeda.

Pengubahan rute kapal akan berdampak pada perdagangan global, kata Smith, tetapi sistem pada akhirnya harus bisa menanganinya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...
Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.