KSAU: Indonesia Batal Membeli Sukhoi Su-35 dari Russia
📅 Kamis, 23 Des 2021, 14:17 WIB | Oleh: Ilham SudrajatSelain itu, juga terdapat rencana akuisisi 30 radar ground-controlled interception (GCI) dan 3 unit pesawat tanpa awak (unmanned combat aerial vehicle/UCAV) dengan kemampuan ketinggian medium.
Sepanjang 2020, Menhan Prabowo menjalin diplomasi pertahanan ke berbagai negara mitra, termasuk AS, Russia dan Prancis, dengan misi kerja sama pengadaan pesawat tempur untuk TNI AU.
Sebelumnya, Indonesia berencana mengakuisisi jet tempur F-35 buatan Lockheed Martin tetapi dinilai tak cukup layak karena belum memiliki seri 4 dan 4,5 dari pesawat generasi ke-5 ini, kata mantan Duta Besar Indonesia untuk AS Muhammad Lutfi pada akhir tahun lalu.
Belum Dibatalkan
Pada Senin (20/12), Duta Besar Russia di Jakarta, Lyudmila Vorobieva, mengatakan pihaknya belum menerima konfirmasi pembatalan rencana akuisisi Sukhoi Su-35 dari Indonesia.
Kendati demikian,Vorobieva mengingatkan bahwa Indonesia berpeluang kehilangan kesempatan untuk memiliki jet tempur bermesin ganda yang mampu melakukan manuver 'kobra' atau berbelok dengan sangat cepat.
"Sukhoi Su-35 saat ini sedang laku keras, banyak diincar oleh negara lain juga. Jadi, semakin lama implementasi kontrak ini terwujud, akan semakin sulit bagi kami untuk memastikan ketersediaannya," kata Verobieva kepada jurnalis.
"Selain itu, kesepakatan ini sudah terjalin sejak tiga tahun lalu, kemungkinan besar harganya juga akan berubah," kata dia menambahkan.
Sukhoi Su-35 ditaksir dengan harga 83-85 juta dollar AS atau sekitar 1,1-1,21 triliun rupiah per unitnya. Melansir Aircrafts Compare, harga Sukhoi Su-35 itu juga tidak berbeda jauh dengan F-15EX yang diperkirakan berkisar 87 juta dollar AS (sekitar Rp1,28 triliun) per unitnya.
Sementara satu unit Rafale dipatok dengan harga yang lebih mahal yakni sekitar 115 juta dollar AS atau setara 1,6 triliun rupiah.
Awal Juni 2021, Kementerian Pertahanan mengajukan anggaran belanja pertahanan hingga 1.760 triliun rupiah yang bakal dialokasikan hingga 2024, untuk memodernisasi pertahanan dalam upaya menghadapi ancaman militer seperti pelanggaran wilayah perbatasan dan intervensi asing.
Dalam salinan dokumen disebutkan anggaran belanja bakal ditempuh melalui pinjaman yang lebih dari separuhnya bakal dialokasikan untuk pembelian alutsista, sisanya adalah anggaran pembayaran bunga dan pemeliharaan. Dokumen tidak memerincikan ke mana pinjaman akan diajukan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!