KSAU: Indonesia Batal Membeli Sukhoi Su-35 dari Russia
📅 Kamis, 23 Des 2021, 14:17 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: AFP
JAKARTA - Indonesia membatalkan rencana membeli pesawat tempur Sukhoi Su-35 dari Russia dan mengincar sebagai gantinya pesawat F15 dari AS dan Dassault Rafale buatan Prancis, kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo, Rabu (22/12).
Pada 2018 Indonesia menyepakati pembelian 11 unit Sukhoi Su-35 senilai total 1,14 miliar dollar AS melalui sistem barter dengan Russia, namun transaksi tak kunjung terwujud di tengah kekhawatiran Indonesia bisa terancam sanksi dari AS karena membeli senjata dari Moskwa.
"Mengenai Sukhoi Su-35, dengan berat hati, ya, kita harus sudah meninggalkan perencanaan itu. Kembali lagi dari awal kita sebutkan pembangunan kekuatan udara sangat bergantung dari anggaran, kalau yang bayar tidak mau kesana, kita tidak bisa nyebut-nyebut terus," kata Fadjar kepada wartawan.
Fadjar mengatakan pihaknya telah mengerucutkan pilihan pada dua merek jet tempur yakni F-15EX buatan Amerika Serikat (AS) dan Dassault Rafale dari Prancis.
Kementerian Pertahanan beberapa kali menolak memberikan jawaban yang terang ketika ditanyakan kelanjutan rencana akuisisi Sukhoi Su-35.
Begitu pula ketika Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto berkunjung ke Russia untuk membahas sejumlah kerja sama bilateral pada Maret 2021. Pernyataan bahwa Prabowo membahas kelanjutan pembelian Sukhoi Su-35 hanya muncul dari pihak Russia.
Pada 2017, Presiden AS waktu itu, Donald Trump, menandatangani undang-undang Undang-undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA), yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran, Russia, dan Korea Utara.
Dengan legislasi itu, pemerintah yang membeli senjata dari Iran, Korea Utara dan Russia dapat juga dikenakan sanksi.
Fadjar menambahkan, keputusan memilih F-15EX dan Rafale juga karena pertimbangan proses pengadaan yang tidak memakan waktu lama dibandingkan Sukhoi Su-35.
"F-15 EX timnya sudah datang ke saya, saya tanya kalau hari ini kita tanda tangan sepakat, unit awal pertama yang akan kita terima kira-kira kapan, jawabannya ya kira-kira tahun 2027," kata Fadjar.
TNI AU mengajukan penambahan maksimal tiga skuadron jet tempur baik dari F-15EX maupun Rafale untuk mengganti pesawat lama serta berusia pakai panjang hingga 30-40 tahun ke depan.
"Kita mesti realistis. Di Laut Tiongkok Selatan itu sebetulnya ancamannya buat siapa, wong kita juga bersahabat dengan Tiongkok. Jadi itu yang selalu kita hitung terus, dengan resources yang ada, kita berupaya yang terbaik untuk rekan-rekan yang berdinas di AU," kata Fadjar.
Pejabat di Kementerian Pertahanan tidak memberikan respons saat mencoba meminta komentar terkait pernyataan KSAU ini.
Pada awal tahun, TNI AU mengungkap rencana akuisisi 36 pesawat tempur Dassault Rafale dan delapan F-15EX buatan Boeing, kemudian 15 pesawat angkut C-130J, dan dua unit multi-role tanker transport (MRTT).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!