Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Petani dan UMKM Penyelamat Krisis Ekonomi 1998 Justru Dimatikan

📅 Jumat, 27 Okt 2017, 00:01 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Petani dan UMKM Penyelamat Krisis Ekonomi 1998 Justru Dimatikan Doc: istimewa

Umbi-umbian dan sagu harus jadi pangan unggulan setelah padi, bukan terigu atau kentang impor.

Presiden harus segera ambil alih tim ekonomi melalui pembentukan Badan Pangan setingkat Menko.

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengingatkan bahwa kalangan petani dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta industri dasar sebenarnya merupakan fondasi ekonomi nasional. Unit usaha dari kelompok ekonomi masyarakat bawah itulah yang telah menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis akibat kehancuran konglomerasi bank pada 1998.

Oleh karena itu, apabila berbagai kebijakan pemerintah justru mematikan petani, UMKM, dan industri dasar tersebut, maka sama saja mematikan fondasi ekonomi nasional.

Anggota Pokjasus Dewan Ketahanan Pangan (DKP), Ahmad Yakub, mengungkapkan gejala-gejala pemicu krisis ekonomi seperti pada 1998 sekarang ini tampaknya kembali diulang, misalnya bubble kredit properti, impor pangan masif yang menghabiskan devisa, dan utang yang menumpuk.

Di sisi lain, banyak kebijakan pembantu Presiden yang mematikan petani, UMKM, dan industri dasar nasional yang sebenarnya selama ini menopang fondasi ekonomi Indonesia.

"Jadi, jika sampai kembali pecah krisis ekonomi seperti 1998, tidak ada lagi yang menopang dan menyelamatkan ekonomi nasional," tegas Yakub, ketika dihubungi, Kamis (26/10). Semestinya, menurut dia, pemerintah justru memperkuat petani, UMKM, dan industri dasar nasional agar memperkokoh fondasi ekonomi Indonesia itu untuk mengantisipasi krisis.

"Salah satu yang mesti dilakukan adalah mengubah strategi pembangunan pangan menjadi mandiri pangan dari bahan-bahan yang bisa dihasilkan petani sendiri dari potensi daerah masing-masing," papar Yakub. Untuk itu, umbi-umbian, tepung ubi kayu (modified cassava flour atau mocaf ), dan sagu harus menjadi andalan pangan nasional setelah padi, bukan terigu atau kentang impor.

"Indonesia timur tidak ada air untuk padi, yang bisa tumbuh adalah ketela, sagu, dan cassava atau singkong. Ini yang harus dikembangkan menjadi pangan unggulan yang bernilai tambah," jelas dia.

Yakub menilai sangat tidak arif jika Indonesia malah mengadopsi pangan subtropis seperti di Eropa dan Amerika, yakni terigu dan kentang. Ini justru menyebabkan Indonesia bergantung pangan dari petani negara lain, bukan petani sendiri.

Padahal, imbuh dia, 12 tahun lalu sudah ada produksi mi dari mocaf yang gurih, legit, bergizi, serta cocok dengan lidah dan perut orang Indonesia, tapi pangan tersebut tidak berkembang karena tidak didukung pemerintah.

"Umbi-umbian bisa membuat masyarakat mampu makan dan berproduksi secara mandiri. Jangan paksakan seluruh daerah makan dan menanam padi. Ini strategi yang tidak tepat," jelas Yakub. Di sisi lain, pemerintah tidak mendukung pengembangan mocaf karena bergantung pada impor gandum.

Tahun 1990-an, impornya sekitar dua juta ton, kini mencapai 9-10 juta ton. Dengan alasan diversifikasi pangan dari beras ke terigu, tapi malah beralih menjadi bergantung pada impor.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
Luar Negeri
Korsel Desak Penghentian Pr...
CUACA EKSTREM

California Umumkan Darurat El Nino

56 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
California Umumkan Darurat ...
Luar Negeri
Topan Dujuan Terjang Wilaya...
Advertisement
Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

22 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.