Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadai Tren Inflasi Dalam Jangka Panjang

5 Selasa, 02 Agu 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai Tren Inflasi Dalam Jangka Panjang Waspadai Tren Inflasi Dalam Jangka Panjang Doc: ANTARA/GALIH PRADIPTA
Ket. WASPADAI RISIKO PEREKONOMIAN GLOBAL I Menteri Keuangan, Sri Mulyani bersama Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (kanan) memberikan keterangan terkait hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tahun 2022 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (1/8). Dalam keterangannya KSSK menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia berada dalam kondisi terjaga di tengah tekanan perekonomian global yang meningkat, namun KSSK juga mewaspadai sejumlah risiko dari perekonomian global yang dapat berdampak pada sistem keuangan dan ekonomi di dalam negeri.

» Harga energi global bisa menjadi pendorong inflasi menjadi lebih tinggi.

» Kenaikan suku bunga penting guna mengurangi uang beredar dan inflasi bisa dikendalikan.

JAKARTA - Pemerintah diminta tidak membuat pernyataan yang terkesan tidak ada masalah dalam perekonomian saat ini. Hal itu mengacu pada pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati yang juga sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang menyatakan inflasi pada Juli sebesar 4,94 persen secara tahunan (year on year/yoy) masih relatif moderat di tengah tingginya tekanan global.

Peneliti Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda yang diminta pendapatnya di Jakarta, Senin (1/8) mengatakan Pemerintah semestinya tidak hanya melihat level saat ini, tetapi perkembangan ke depan yang dirasa sudah ada sinyal bahaya, bukan lagi moderat.

"Ke depan saya rasa bisa lebih tinggi lagi yang bisa mengganggu pemulihan ekonomi. Sangat bisa tembus lima persen inflasi kita di bulan Agustus karena inflasi pada Juli saja sudah tembus 4,94 persen secara yoy," kata Nailul.

Menurut Nailul, kenaikan harga bahan makanan menjadi faktor pendorong naiknya inflasi. Apalagi, iklim dan cuaca sangat tidak mendukung panen beberapa komoditas, seperti cabai.

Kondisi tersebut makin diperparah dengan harga energi yang tinggi yang mengakibatkan harga tiket untuk penerbangan dan penyeberangan cukup tinggi. Harga energi global yang belum turun signifikan tersebut bisa menjadi pendorong inflasi menjadi lebih tinggi.

"Selain itu, Bank Indonesia (BI) yang masih menahan suku bunga acuan yang menjadikan inflasi tidak ada yang menahan," kata Nailul.

Ditanya mengenai respons yang harus pemerintah tempuh agar dampaknya tidak terlalu memperburuk situasi domestik, dia mengatakan dalam jangka pendek memang sulit, kecuali mengendalikan inflasi melalui instrumen suku bunga.

"Respons jangka panjang tentu penguatan pangan lokal, meskipun hasilnya dalam jangka waktu yang panjang juga. Sementara, dari sisi energi nampaknya juga tidak bisa berbuat banyak mengingat kita sudah net importir minyak," katanya.

Kenaikan Suku Bunga

Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Susilo mengatakan dengan situasi tekanan inflasi yang sudah direspons dengan naiknya suku bunga di beberapa negara bahkan Amerika menaikkan hingga 0,75 basis poin, tampaknya kenaikan suku bunga BI-7 days reverse repo rate tinggal menunggu waktu saja. "Suku bunga memang mesti dinaikkan pada Agustus ini. Soal ada yang bilang naik 1 persen atau hanya 0,5 persen itu memang harus dilihat detail kebutuhannya, prioritasnya," kata Susilo.

Susilo menjelaskan kenaikan suku bunga penting untuk mengimbangi kenaikan suku bunga di negara-negara tetangga dan juga di negara maju agar capital outflow bisa terkendali. Bagi investor, awal Agustus ini jadi sinyal kemana uangnya akan dipindahkan. Indonesia, menurut Susilo memang tidak boleh terlambat mengambil keputusan. "Makin cepat diputuskan kenaikannya maka akan jelas sinyal kebijakannya," jelasnya.

Kenaikan suku bunga tambah Susilo, penting untuk mengurangi uang yang beredar agar inflasi yang ditakutkan akan menekan ekonomi nasional juga bisa dikendalikan. Hari ini, menurut Susilo, tak hanya pangan dan energi, bahkan mencari motor baru di dealer-dealer pun sulit karena pasokan terbatas akibat terlambatnya pabrikan komponen otomotif. Harga otomotif terutama motor memang belum ada kenaikan, tapi barang sudah susah dicari.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...

Korut Enggan Berdialog Kembali dengan AS

1 jam lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Korut Enggan Berdialog Kemb...

Menlu Tailan akan Kunjungi Myanmar

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Menlu Tailan akan Kunjungi ...
Advertisement
Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

04 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.