Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Riset UGM Soroti Dampak Mikroplastik, dari Gangguan Usus hingga Risiko Kanker

📅 Selasa, 14 Okt 2025, 18:00 WIB | Oleh:
Riset UGM Soroti Dampak Mikroplastik, dari Gangguan Usus hingga Risiko Kanker Doc: Dok. Freepik

YOGYAKARTA – Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia kian nyata. Penelitian terbaru dari Center for Biomarker Research in Medicine, Austria, mengungkapkan bahwa partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter mampu memengaruhi mikrobioma usus manusia. Perubahan tersebut bahkan menunjukkan pola yang mirip dengan kondisi depresi dan kanker kolorektal.

Mikroplastik kini telah menyatu dalam keseharian manusia, ditemukan pada udara, makanan, dan air yang dikonsumsi setiap hari. Kondisi ini menjadi perhatian serius para peneliti, termasuk Dr. Annisa Utami Rauf, dosen dan peneliti kesehatan lingkungan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM). Ia menilai, paparan mikroplastik perlu dikendalikan tidak hanya di tingkat individu, tetapi juga melalui kebijakan nasional.

Menurut Annisa, tantangan terbesar dalam pengendalian mikroplastik adalah mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. “Saat ini mikroplastik telah tersebar luas di berbagai aspek kehidupan, mulai dari udara hingga makanan dan air,” ujarnya, Selasa (14/10).

Pemerintah sebenarnya telah menargetkan pengurangan sampah plastik di laut hingga 70 persen pada 2025 melalui program National Plastic Action Partnership (NPAP). Namun, menurut Annisa, target tersebut sulit tercapai tanpa perubahan perilaku masyarakat terhadap konsumsi plastik sekali pakai.

Ia menambahkan, kebiasaan menggunakan kantong belanja, kemasan makanan, dan pembungkus dalam transaksi daring masih menjadi penyumbang utama pencemaran mikroplastik. “Perubahan gaya hidup menjadi langkah awal yang paling realistis untuk mengurangi dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan,” katanya.

Annisa mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menelan sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat paparan tertinggi di dunia. Karena itu, pembatasan penggunaan plastik, terutama pada kemasan makanan, perlu diperkuat. “Industri makanan dan produsen punya peran besar dalam merancang kemasan yang aman dan ramah lingkungan. Masyarakat juga perlu lebih selektif memilih produk dengan kemasan yang minim plastik,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan, upaya sederhana dapat memberikan dampak signifikan. Masyarakat dapat membawa tumbler sendiri, menghindari air kemasan sekali pakai, dan menggunakan wadah yang dapat dipakai berulang. “Di lingkungan pendidikan seperti kampus, kebiasaan ini bisa diterapkan secara kolektif. UGM sendiri sudah memiliki Toyagama yang menyediakan akses air minum bersih di berbagai titik kampus,” ujarnya.

Namun demikian, Annisa mengingatkan bahwa air galon sekali pakai maupun isi ulang dari depot air minum tidak sepenuhnya bebas risiko. Beberapa studi menemukan adanya kandungan mikroplastik jenis high density polyethylene (HDPE) dan polyethylene terephthalate (PET) pada wadah tersebut. Karena itu, menurutnya, perlu ada kebijakan yang lebih ketat mengenai standar keamanan air minum dan bahan kemasan yang digunakan masyarakat.

Selain perubahan perilaku individu, Annisa menilai penguatan riset dan kebijakan publik menjadi langkah penting untuk memahami serta menekan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Masih terbatasnya fasilitas laboratorium untuk pengujian mikroplastik di Indonesia menyebabkan data ilmiah tentang paparan ini belum menyeluruh. “Keterbatasan ini menyebabkan data ilmiah tentang dampak mikroplastik di dalam tubuh manusia masih belum menyeluruh,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap optimistis. Beberapa riset menunjukkan adanya mikroba yang mampu mendegradasi molekul mikroplastik. Namun, menurut Annisa, langkah paling efektif tetap dimulai dari sumbernya. “Jika tidak dikendalikan, akumulasi mikroplastik akan terus berlangsung dan masuk ke rantai makanan yang kita konsumsi, mulai dari ikan, ayam, hingga hasil pertanian,” tutupnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.