Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Konflik Opang Vs Taksi Online, Ibu dan Bayi Dipaksa Turun Saat Hujan

📅 Selasa, 29 Jul 2025, 08:00 WIB | Oleh:
Konflik Opang Vs Taksi Online, Ibu dan Bayi Dipaksa Turun Saat Hujan Doc: Instagram

Jakarta - Sebuah insiden memilukan mengguncang media sosial pekan lalu. Di tengah derasnya hujan pada Jumat, (25/7), seorang ibu yang menggendong bayi dipaksa turun dari taksi online oleh tiga ojek pangkalan (opang) di depan Stasiun Tigaraksa, Tangerang. Video kejadian itu menyebar luas, memantik gelombang kemarahan publik.

Dalam rekaman berdurasi kurang dari satu menit itu, terlihat para opang menghadang kendaraan dan memaksa penumpang turun. Bahkan, salah satu pelaku tampak mengancam sambil mengangkat batu. Adegan itu tidak hanya mencederai rasa kemanusiaan, tetapi juga membuka kembali luka lama soal konflik klasik antara transportasi daring dan konvensional.

“Ini bentuk nyata premanisme akibat lemahnya penegakan hukum,” tegas analis kebijakan transportasi Azas Tigor Nainggolan dalam sebuah wawancara.

Pihak kepolisian bergerak cepat. Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, mengonfirmasi bahwa tiga terduga pelaku telah diamankan. Menurutnya, insiden ini dipicu oleh kesalahpahaman mengenai zona penjemputan. “Kami sedang memediasi pihak-pihak terkait,” ujarnya.

Kapolsek Cisoka, Iptu Anggio Pratama, menambahkan bahwa ketiga pelaku kini dalam proses penyelidikan. “Kami tangkap untuk mendalami motif dan kronologi sebenarnya,” jelasnya.

Namun bagi Azas Tigor, akar persoalan jauh lebih dalam. Ia menyebut peristiwa ini sebagai “ledakan kecil” dari konflik yang tak pernah benar-benar diselesaikan sejak transportasi daring hadir. Zona merah wilayah yang dianggap “terlarang” bagi pengemudi online selalu menjadi titik rawan gesekan.

Ia pun mendesak sinergi nyata antara pemerintah daerah, kepolisian, dan pihak aplikator. “Harus ada zona aman bersama. Tidak bisa terus dibiarkan dan diselesaikan secara kekeluargaan,” tegasnya.

Azas juga mengusulkan inovasi keamanan seperti tombol darurat di aplikasi yang terhubung langsung dengan kepolisian. “Seperti di Singapura, kalau ada panic button ke polisi, aksi premanisme seperti ini bisa langsung dicegah,” ujarnya.

Peristiwa ini bukan sekadar konflik soal penumpang. Ia menjadi cermin dari kegagalan sistemik dalam menciptakan ruang transportasi yang adil, aman, dan manusiawi terutama bagi mereka yang paling rentan: perempuan dan anak-anak.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.