Kapolda Papua Tengah Dorong Program Gizi di Nabire Fokus pada Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita
📅 Selasa, 17 Mar 2026, 05:05 WIB | Oleh: Yebdi TrismarKapolda Papua Tengah Irjen Pol Jermias Rontini meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Nabire mengembangkan layanan program pemenuhan gizi agar menjangkau kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.
“SPPG kita harapkan tidak hanya menyasar siswa sekolah. Sentuhan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita sangat penting agar mereka juga merasakan dampak langsung dari program ini,” katanya saat melakukan kunjungan ke Dapur SPPG 003 Siriwini, Nabire, Senin.
Polda Papua Tengah terus memberikan perhatian terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Tengah, khususnya Kabupaten Nabire.
Dia mengatakan saat ini SPPG masih melakukan proses pendataan terhadap calon penerima manfaat dari kelompok tersebut agar dapat dimasukkan dalam program pelayanan gizi.
Ia mengingatkan setiap pengelola SPPG menjaga kebersihan dapur serta memastikan mekanisme operasional berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Sebaiknya Anda baca juga:
“Mekanisme penyaluran serta bangunan setiap SPPG harus sesuai dengan standar dari BGN,” ujarnya.
Saat ini, Dapur SPPG 003 Siriwini melayani sekitar 2.000 penerima manfaat yang sebagian besar siswa sekolah sehingga harus memiliki standar operasional yang baik.
Ia menjelaskan operasional dapur pelayanan gizi tersebut memberikan dampak maksimal bagi para penerima manfaat, sekaligus mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menekankan pentingnya pengawasan terhadap proses distribusi makanan dari dapur pelayanan gizi guna mengantisipasi kemungkinan terjadi permasalahan di kemudian hari.
Kunjungan Kapolda Jermias Rontini tersebut juga untuk meninjau kondisi SPPG setelah adanya laporan dugaan keracunan makanan di Nabire.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Papua Tengah Marsel Asyerem mengatakan terdapat sejumlah laporan gejala, seperti diare, muntah, dan pusing dialami beberapa orang setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Orang-orang tersebut bagian penerima layanan MBG dari dapur SPPG Lani.
“Berdasarkan laporan sementara ada 23 orang yang mengalami gejala tersebut, namun sebagian besar yang mengalami gejala adalah orang yang mengonsumsi makanan basah MBG yang dibawa pulang,” katanya.
Ia menjelaskan makanan basah dalam program MBG seharusnya dikonsumsi langsung di sekolah dan dilarang dibawa pulang karena berpotensi mengalami penurunan kualitas atau basi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!