Inovasi Jadi Kunci Hadapi Berbagai Tantangan
📅 Selasa, 22 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Eko SJakarta - Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan menilai inovasi menjadi kunci menghadapi berbagai tantangan multidimensi yang memengaruhi ketahanan pangan nasional, mulai dari perubahan iklim hingga dinamika ekonomi global.
“Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi menjadi salah satu solusi kunci. Transformasi pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dialihfungsikan menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bagian dari solusi energi,” kata Asisten Deputi Logistik Pangan Kemenko Pangan Ridky Irfan Wirautama di Jakarta, Senin (21/9).
Menurut Ridky, sektor pertanian dan pangan menjadi salah satu prioritas pemerintah. Namun, penguatan ketahanan pangan menghadapi tantangan berupa perubahan iklim, gejolak harga pangan, bencana alam, kesiapan infrastruktur logistik, serta penyusutan lahan produktif.
Untuk itu, pemerintah memperluas penerapan ekonomi sirkular pangan sekaligus memitigasi dampak cuaca ekstrem. Pada sektor logistik maritim, pemerintah mendorong pengembangan pelabuhan hijau dan cerdas (green and smart port) melalui digitalisasi, tata kelola modern, budaya Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), serta prinsip reduce, reuse, dan recycle.
Pengembangan ekonomi biru (blue economy) juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir.
“Pada 2026, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dicanangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu ke hilir, mulai dari produksi penangkapan, pengolahan, fasilitas pendingin dan penyimpanan, hingga jaringan distribusi pasar,” ujarnya.
Ridky menegaskan penguatan ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan penyelarasan kebijakan agar rantai pasok serta logistik komoditas pangan berjalan efektif dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Sementara itu, Senior Researcher Korea Research Institute on Climate Change (KRIC) Bonn Choi mengatakan implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris membuka peluang pengembangan pasar karbon sebagai instrumen pengurangan emisi.
“Pengurangan emisi dapat memberikan dua manfaat utama, yaitu mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui transaksi perdagangan karbon,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!