Cicilan Utang Whoosh Rp1 Triliun per Tahun, Beban Besar di Balik Kereta Cepat
📅 Selasa, 08 Sep 2026, 18:45 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Whoosh menjadi perhatian di tengah besarnya kebutuhan pembiayaan proyek dan tekanan terhadap keberlanjutan finansialnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat meringankan beban kewajiban sekaligus menciptakan ruang bagi pengelolaan proyek yang lebih sehat, sehingga layanan kereta cepat tetap berjalan tanpa menambah tekanan fiskal secara berlebihan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh menggunakan skema cicilan sekitar Rp1 triliun per tahun dengan tenor hingga 80 tahun.
“Total utang besar, tapi sudah direstrukturisasi 80 tahun, cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah,” kata Purbaya dalam taklimat media di Jakarta, Selasa (8/9).
Ia menilai beban dari skema restrukturisasi tersebut relatif lebih ringan dari perkiraan sehingga masih dapat ditangani oleh Kementerian Keuangan.
Purbaya sebelumnya telah menyampaikan akan melibatkan perusahaan special vehicle mission (SMV) atau Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kemenkeu untuk mengelola utang KCJB di bawah pemerintah.
Sejauh ini, ia mempertimbangkan Indonesia Investment Authority (INA) serta PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) untuk menjalankan mandat tersebut. Namun, mengingat beban cicilan yang relatif lebih ringan, ia membuka peluang menunjuk hanya satu SMV untuk mengelola utang Whoosh.
“Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa. Kalau segini saja cukuplah ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan,” ujarnya menambahkan.
Proses peralihan tanggung jawab pengelolaan utang proyek KCJB dari Danantara ke Kemenkeu direncanakan pada 15 September 2026.
Usai dialihkan ke pemerintah, Menkeu Purbaya berencana mengembangkan proyek Whoosh ke wilayah lainnya. Ia menargetkan jalur Whoosh dapat diperpanjang hingga ke Jawa Timur.
“Nanti kami tarik ke Jawa Timur. Kan jadi punya saya (pemerintah), punya SMV kan itu kereta cepatnya. Kami akan tarik ke Jawa Timur. Saya sudah bicara dengan Menteri Keuangan China dan siapa yang berwenang di sana, sepertinya mereka tertarik,” tuturnya.
Sebelumnya, Purbaya menjelaskan pelibatan perusahaan di bawah Kemenkeu dalam proses restrukturisasi utang Whoosh akan memberikan keuntungan hingga Rp800 miliar per tahun.
Ia pun meyakini SMV atau BLU Kemnekeu memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola utang Whoosh.
Menurut Purbaya, salah satu perusahaan SMV dapat membukukan keuntungan sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!