Berakit-rakit Dahulu Menuntut Ilmu di Sekolah Kemudian, Keseharian Pagi Anak-anak Sadang Menuju Tepian Waduk Saguling
📅 Sabtu, 29 Agu 2026, 14:28 WIB | Oleh: OpikPagi seorang ibu
Rutinitas menyeberangi waduk juga dijalani Santi Nur Setiani, warga Kampung Sadang yang anak keduanya kini duduk di kelas 3 SD.
Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, anaknya sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Ketua RT dan warga lainnya biasanya membantu mengantar anak-anak menuju tepian waduk hingga menyeberang.
Tidak ada sarana transportasi lain yang dapat digunakan secara langsung menuju sekolah.
“Tidak ada transportasi yang lain,” kata Santi.
Rakit menjadi pilihan paling memungkinkan karena memangkas perjalanan yang harus ditempuh melalui jalur darat.
Namun, kemudahan tersebut tetap menyisakan kekhawatiran bagi orang tua.
Terlebih ketika hujan turun deras atau permukaan waduk dipenuhi eceng gondok. Anak-anak harus tetap menyeberang agar tidak terlambat mengikuti kegiatan belajar.
Santi mengaku salah satu kekhawatirannya adalah anak terpeleset ketika berada di rakit, terutama saat bercanda bersama teman-temannya.
“Takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit,” kata Santi.
Jika tidak ada warga yang mengantar, anak-anak harus berjalan kaki melalui jalur darat.
“Paling setengah jam kalau cepat,” kata Santi.
Dengan pilihan yang terbatas itu, pendidikan tetap menjadi tujuan utama perjalanan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!