Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Berakit-rakit Dahulu Menuntut Ilmu di Sekolah Kemudian, Keseharian Pagi Anak-anak Sadang Menuju Tepian Waduk Saguling

📅 Sabtu, 29 Agu 2026, 14:28 WIB | Oleh:
Berakit-rakit Dahulu Menuntut Ilmu di Sekolah Kemudian, Keseharian Pagi Anak-anak Sadang Menuju Tepian Waduk Saguling Doc: ANTARA/Ilham Nugraha
Ket. Sejumlah anak menaiki sebuah rakit ketika jam pulang sekolah dari SDN Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

BANDUNG  BARAT - Jarum jam mendekati pukul 06.00 WIB ketika sejumlah anak di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mulai bersiap menuju sekolah.

Seragam putih-merah sudah dikenakan dengan tas sekolah tersampir di punggung mereka saat bersama-sama berjalan menuju tepian Waduk Saguling, tempat sebuah rakit bambu telah menunggu untuk membawa mereka ke seberang.

Satu per satu anak menaiki rakit. Mereka duduk berdekatan sambil menjaga tas dan perlengkapan sekolah. Seorang warga kemudian membantu mengarahkan rakit menggunakan tali yang membentang di atas permukaan waduk.

Perlahan, rakit bergerak meninggalkan tepian Kampung Sadang menuju Kampung Gombong, tempat SD Negeri Budiharja berada.

Bagi anak-anak tersebut, perjalanan dengan rakit bukan pengalaman sesekali. Setiap hari sekolah, mereka menyeberangi Waduk Saguling untuk sampai ke ruang kelas dengan rakit.

Pemandangan itu mungkin terlihat tidak biasa bagi orang yang baru melihatnya. Namun bagi warga Kampung Sadang, menyeberangi waduk dengan rakit bambu telah menjadi bagian dari kehidupan selama puluhan tahun.

Kampung Sadang dan lokasi sekolah sebenarnya tidak terpisah terlalu jauh jika dilihat dari titik penyeberangan.

Namun, belum adanya jembatan membuat anak-anak harus memilih menggunakan rakit atau berjalan melalui jalur darat yang memutar.

Kepala SD Negeri Budiharja Taufik mengatakan jarak melalui jalur darat dari Kampung Sadang menuju sekolah mencapai hampir empat kilometer.

Dengan berjalan kaki, perjalanan anak-anak dapat memakan waktu sekitar setengah jam. Kondisi itu menjadi semakin terasa karena siswa kini harus sudah berada di kelas pada pukul 06.30 WIB.

“Makanya untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan semangat untuk sekolah itu mungkin, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya sampai dari sana ke sini 10 menit juga atau 5 menit. Itu sangat diperlukanlah jembatannya,” ujar Taufik.

Saat ini terdapat 16 siswa SD Negeri Budiharja yang masih menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.

Mereka terdiri atas tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.

Bagi sekolah, persoalan tersebut bukan hanya mengenai jarak tempuh, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan akses anak-anak dalam memperoleh pendidikan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Soal Kuota Internet, Menkomdigi Terbitkan SE Wajibkan Operator Seluler Patuhi Putusan MK
    Saluran resmi AirAsia, Anda dapat menghubungi Call Center ...
  • Ada Apa Tiba-tiba DPR Desak Imigrasi Evaluasi Pengawasan WNA di Bali?
    tatacara mau tanya soal cara melakukan Reschedule tiket ...
    tatacara mau tanya soal cara melakukan Reschedule tiket ...
  • Industri Pangan Tak Boleh Jalan di Tempat, Riset IPB Buka Peluang Besar
    Pertumbuhan industri mamin 6,51% ini merupakan sinyal positif ...
  • BeFa Bangun Kawasan Industri AI-Ready Pertama di Indonesa
    Artikel ini memberikan wawasan edukatif yang sangat mencerahkan ...
  • Menperin: Industri Hijau Bukan Beban, Tapi Investasi Jangka Panjang untuk Tembus Pasar Global
    Artikel dari Koran Jakarta ini sangat informatif dan ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Wisata Pantai di Gunung Kidul Makin Gampang, Kelok 23 Jadi Senjata Baru Lawan Kemacetan

Wisata Pantai di Gunung Kidul Makin Gampang, Kelok 23 Jadi Senjata Baru Lawan Kemacetan

28 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.