Penurunan Berat Badan Sekitar 10 Persen Berpotensi Meredakan Nyeri OA Lutut
📅 Jumat, 28 Agu 2026, 22:42 WIB | Oleh: Haryo BronoDokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andhika Raspati, Sp.K.O., mengimbau agar program manajemen berat badan tidak hanya berorientasi pada penurunan angka di timbangan, melainkan berfokus pada pengurangan massa lemak sekaligus mempertahankan massa otot.
Penurunan berat badan yang hanya mengandalkan pembatasan asupan makanan tanpa latihan fisik berisiko menyebabkan hilangnya massa otot, menurunnya kebugaran, serta memicu fenomena efek yoyo. Oleh karena itu, kombinasi latihan kardio (pembakaran kalori) dan latihan kekuatan (mempertahankan massa otot) sangat diperlukan.
Bagi penderita obesitas dan OA lutut, aktivitas fisik dapat dimulai dengan latihan berdampak rendah (low-impact) dan intensitas ringan secara bertahap menggunakan prinsip start low, go slow.
Sebagai panduan umum, latihan aerobik dapat dilakukan setidaknya 5 hari per minggu selama 30 menit per hari (total 150 menit per minggu), dan ditingkatkan hingga 250–300 menit per minggu. Latihan kekuatan disarankan 2–3 kali per minggu dengan peningkatan beban secara bertahap.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Penurunan berat badan yang sehat bukan sekadar mengurangi asupan makanan, melainkan juga menjaga agar massa otot tidak ikut berkurang. Kombinasi latihan kardio berdampak rendah—seperti bersepeda atau menggunakan recumbent bike—dan latihan kekuatan yang menyasar kelompok otot besar dapat mendukung tujuan tersebut,” jelas dr. Andhika.
Ia juga menyarankan pentingnya pemeriksaan medis (medical check-up) sebelum memulai program latihan guna mengidentifikasi risiko komorbiditas kardiometabolik maupun muskuloskeletal agar aktivitas dapat dilakukan secara aman.
Obesitas Adalah Kondisi Medis, Bukan Kegagalan Pribadi
Sebaiknya Anda baca juga:
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk berusia di atas 18 tahun telah mencapai 23,4 persen—artinya hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas.
Associate Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny M. Tarliman, menyampaikan bahwa obesitas harus dipahami sebagai penyakit kronis kompleks yang dipengaruhi oleh faktor biologis, genetik, psikologis, sosial, dan lingkungan, bukan sekadar masalah komitmen pribadi.
“Apabila seseorang telah berupaya mengatur pola makan dan meningkatkan latihan fisik tetapi masih kesulitan mengelola berat badan, hal tersebut bukan berarti ia gagal. Obesitas adalah kondisi medis, bukan kegagalan pribadi,” tegas dr. Riyanny.
Ia menambahkan bahwa manajemen berat badan harus berorientasi jangka panjang dengan memperhatikan komposisi tubuh—mengurangi lemak berlebih namun mempertahankan massa otot—demi menjaga fungsi fisik dan kualitas hidup.
“Melalui platform edukasi NovoCare.id, kami ingin membantu masyarakat memperoleh informasi tepercaya dan berbasis sains seputar obesitas, menghitung BMI, serta mencari bantuan dokter secara tepat,” pungkasi dr. Riyanny.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!