Airlangga Pelajari Strategi Kanada Bangun Pusat Data AI, RI Siap Kejar Ketertinggalan?
📅 Kamis, 17 Sep 2026, 19:25 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pembangunan ekosistem kecerdasan artifisial (AI) menjadi semakin penting seiring teknologi ini mulai memengaruhi berbagai sektor, mulai dari industri, layanan publik, pendidikan hingga ekonomi digital.
Indonesia membutuhkan ekosistem yang tidak hanya bertumpu pada pengembangan teknologi, tetapi juga ditopang talenta digital, infrastruktur komputasi, data berkualitas, riset, dan regulasi yang mampu mendorong inovasi.
Penguatan seluruh fondasi tersebut menjadi kunci agar pemanfaatan AI dapat menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempelajari pendekatan Kanada dalam mengembangkan pusat data (data center) sebagai bagian dari ekosistem kecerdasan artifisial (AI).
Hal tersebut dibahas dalam sesi makan siang bertajuk “Scaling Canada’s AI and Technology Ecosystem” di sela rangkaian Canada Investment Summit 2026 di Toronto, Kanada.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pendekatan Kanada dalam membangun kedaulatan data dan komputasi ini relevan bagi Indonesia, khususnya dalam mempersiapkan kesiapan energi dan kepercayaan publik sebagai fondasi pengembangan ekosistem AI dan data center nasional ke depan,” kata Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/9).
Airlangga menjelaskan, strategi AI Kanada dibangun di atas tiga pilar, yakni kepercayaan publik (trust), penciptaan peluang (opportunity), dan kendali kedaulatan (sovereign control).
Dalam pengembangan pusat data, Kanada telah menyusun kerangka kerja yang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan, investasi bagi komunitas sekitar, serta kedaulatan data.
Kerangka tersebut telah diadopsi oleh perusahaan hyperscaler utama dunia.
Kanada juga memanfaatkan keunggulan infrastrukturnya, termasuk ketersediaan energi bersih dan gas alam dengan biaya relatif murah untuk mendukung pembangunan pusat data berkapasitas besar di Alberta, Ontario, dan Saskatchewan.
Menurut Airlangga, pendekatan itu menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur AI tak hanya membutuhkan teknologi dan investasi, namun juga dukungan energi, tata kelola data, serta kepercayaan publik.
Di samping itu, negeri daun maple itu juga menetapkan sejumlah target untuk mendorong adopsi AI di dalam negeri, antara lain di sektor kesehatan, pendidikan, sumber daya alam, dan pertahanan. Upaya ini didukung dana ekuitas senilai 500 juta dolar AS.
Adapun sektor swasta turut dibahas dalam pengembangan ekosistem AI Kanada. Salah satunya melalui dana venture capital OpenText yang diarahkan untuk membangun ekosistem AI lokal secara global.
"Kehadiran Indonesia dalam forum ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan strategis terkait perkembangan kebijakan AI global, sekaligus memperkuat basis pengetahuan dalam mendukung pengembangan ekosistem digital dan pusat data nasional," jelas Airlangga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!