Tiongkok Kembangkan Misil Hipersonik Jarak Jauh
📅 Rabu, 26 Agu 2026, 02:45 WIB | Oleh: Tim RedaksiBEIJING – Militer Tiongkok telah mengembangkan kendaraan luncur hipersonik yang dapat meluncurkan senjata udara-ke-udara, sebuah kemajuan yang dimaksudkan untuk mengancam target bernilai tinggi seperti pesawat komando dan kendali yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Terobosan alutsista ini merupakan bagian dari upaya yang lebih besar oleh Tiongkok untuk menggunakan persenjataan misil yang terbesar di dunia untuk hampir setiap tugas militer, menurut seseorang yang memiliki informasi pasti tentang masalah tersebut.
Informasi ini mengemuka saat Amerika Serikat (AS) tengah kesulitan mendapatkan pasokan misil pertahanan udara dan senjata serang jarak jauh yang sangat penting setelah enam bulan perang dengan Iran.
“Tiongkok juga menambahkan kemampuan tempur udara-ke-udara pada beberapa misil jelajah hipersonik dan membangun kemampuan anti-kapal ke dalam beberapa jenis misil,” kata narasumber tersebut, yang meminta jati dirinya dirahasiakan karena sensitivitas informasi tersebut, Selasa (25/8).
Senjata semacam itu akan menimbulkan ancaman serius terhadap operasi udara AS selama konflik dengan Tiongkok. Pesawat pendukung milik AS seperti pesawat tanker, pesawat peringatan dan kendali udara, dan bahkan pos komando terbang E-4B Nightwatch misalnya, dirancang untuk beroperasi jauh dari medan pertempuran.
Kendaraan luncur hipersonik yang diluncurkan dari misil DF-17 dapat menempuh jarak sekitar 2.414 kilometer atau hampir sama dengan jarak dari Tiongkok ke sebuah lokasi militer utama milik AS di wilayah Guam.
Sementara misil DF-27 memiliki jangkauan maksimum sekitar 8.000 kilometer, sehingga Hawaii berada dalam jangkauannya.
Kendaraan luncur hipersonik atau HGV adalah hulu ledak yang dapat bermanuver di atmosfer dalam perjalanannya menuju target, hingga sanggup memperluas jangkauan dan mempersulit pencegatan. Sejauh ini tidak ada negara lain yang diketahui mengoperasikan senjata yang menggabungkan HGV dengan misil udara-ke-udara.
Sebuah laporan dari Institut Studi Kedirgantaraan Tiongkok Angkatan Udara AS pada tahun 2026 menyatakan tanpa memberikan rincian, bahwa upaya modernisasi misil Tiongkok semakin memprioritaskan kemampuan untuk menimbulkan kerusakan terkoordinasi di tingkat sistem pada seluruh arsitektur operasional musuh.
Menurut laporan Bloomberg pada Mei lalu, Tiongkok tampaknya telah meningkatkan produksi misil pada tahun 2025 dengan jumlah terbesar sejak Xi Jinping menjadi presiden pada tahun 2013, dan untuk pertama kalinya menggelontorkan dana ke sektor tersebut.
Pentagon memperkirakan Tiongkok memiliki setidaknya 3.150 misil balistik dan 300 misil jelajah yang diluncurkan dari darat pada tahun 2024. Angka-angka tersebut mewakili peningkatan masing-masing sebesar 147 persen dan 50 persen dari tahun 2015, ketika AS mulai mengungkapkan perkiraan tersebut.
Radar di LTS
Sementara itu hasil analisis pada citra satelit terbaru mengungkapkan bahwa Tiongkok telah menambahkan radar peringatan dini di dekat pangkalan baru di Laut Tiongkok Selatan LTS. Instalasi radar canggih Tiongkok tersebut terpantau berada di sebuah pulau kecil dekat Antelope Reef di Kepulauan Paracels di LTS.
“Instalasi itu bisa jadi merupakan awal dari fasilitas radar peringatan dini untuk mendukung instalasi selanjutnya di Antelope Reef. Berdasarkan citra terbaru pada 17 Agustus yang kami bandingkan citra lain sebelumnya, diketahui bahwa pembangunan instalasi tersebut dimulai pada bulan Maret dan April,” lapor juru bicara penyedia layanan citra satelit komersial, Vantor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!