‘It Ends’: Backrooms Perjalanan di Pedalaman
📅 Minggu, 23 Agu 2026, 05:15 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SHal menarik lainnya adalah cara film ini memperlakukan konsep kemajuan. Mobil terus bergerak, tetapi pergerakan tersebut tidak otomatis berarti mereka semakin dekat dengan tujuan.
Gagasan itu membuat “It Ends” berbeda dari film perjalanan pada umumnya. Berbagai film seperti “The Fast and the Furious”, “Mad Max: Fury Road”, “Two-Lane Blacktop”, hingga “Thelma & Louise” menggunakan perjalanan sebagai bentuk gerak menuju sesuatu.
Dalam “It Ends”, bergerak justru bisa berarti terjebak.
Film ini juga menyelipkan kritik terhadap kehidupan modern. Ketergantungan pada teknologi, internet, GPS, serta obsesi terhadap tujuan material menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi para karakter.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu karakter bahkan menyadari bahwa ia memiliki lebih sedikit foto keluarganya di ponsel dibandingkan meme. Ketika koneksi internet menghilang, mereka mulai mempertanyakan seberapa banyak kehidupan mereka selama ini bergantung pada teknologi.
Para pemain yang relatif belum dikenal menjadi salah satu kekuatan film. Phinehas Yoon membawa karakter James yang ambisius tetapi sulit disukai, sementara Mitchell Cole memainkan Tyler sebagai sosok sinis dan praktis.
Noah Toth dan Akira Jackson memberikan keseimbangan melalui humor sehingga cerita tidak terus-menerus berada dalam tekanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yang membuat “It Ends” menarik adalah keputusan Ullom untuk tidak memberikan semua jawaban kepada penonton. Ketika salah satu karakter meninggalkan mobil dan tidak pernah terlihat lagi, film tidak menjelaskan apakah keputusan tersebut benar atau justru sebuah kesalahan.
Dengan demikian, penonton dipaksa menentukan sendiri makna dari perjalanan tersebut.
Apakah mereka harus terus bergerak?
Apakah mereka seharusnya berhenti dan menerima keadaan?
Atau justru perjalanan tanpa akhir itu merupakan gambaran kehidupan mereka sejak awal?
“It Ends” tidak memberikan jawaban sederhana. Film ini menggunakan premis horor tentang empat orang yang terjebak di jalan tanpa ujung untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: manusia yang terus bergerak karena merasa harus memiliki tujuan, meski tidak selalu tahu ke mana mereka sebenarnya menuju.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!