Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perlu Segera Menghitung Ketersediaan Logistik Dampak Kemarau Panjang

📅 Rabu, 12 Agu 2026, 11:12 WIB | Oleh:
Perlu Segera Menghitung Ketersediaan Logistik Dampak Kemarau Panjang Doc: ist
Ket. kekeringan mulai berat

JAKARTA – Pemerintah diingatkan segera mendata ulang ketersediaan logistik guna menghadapi kemarau Panjang. Usul ini datang dari Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesia (PPLI). Kelompok ini menilai perlu dilakukan mitigasi dampak kemarau terhadap pasokan dan harga produk hortikultura secara terpadu melalui penguatan logistik distribusi, data produksi, teknologi pascapanen hingga infrastruktur rantai dingin.

Kepala Bidang Rantai Dingin PPLI Tejo Mulyono mengatakan cuaca ekstrem dapat mengurangi produksi ketika menyebabkan kegagalan panen sehingga berdampak terhadap ketersediaan produk hortikultura.

“Saat cuaca ekstrem, tentu saja ada kekurangan supply karena gagal panen, secara agregat tingkat produksi nasional akan menurun bila terjadi cuaca ekstrem,” kata Tejo saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak kemarau berlangsung pada Juli–September 2026, dengan cakupan terbesar pada Agustus yang meliputi 369 zona musim atau 48,84 persen luas daratan Indonesia.

Menurut Tejo, penguatan rantai dingin atau cold chain dapat membantu menjaga kualitas dan memperpanjang masa simpan produk hortikultura setelah dipanen, meski bukan satu-satunya faktor penentu stabilitas harga.

“Pembangunan cold chain berperan hanya pada menjaga kualitas produk dan daya simpan yang lama,” ujarnya.

Namun, ia mengatakan sebagian besar distribusi buah dan sayuran masih menggunakan angkutan konvensional tanpa pendingin. Penanganannya juga berbeda untuk setiap komoditas, seperti cabai yang cepat rusak dan bawang merah yang lebih membutuhkan penyimpanan kering.

Dengan demikian, Tejo menyebut kehilangan pangan atau food loss berpotensi terjadi sejak proses panen, pengepakan, pengangkutan dan penyimpanan hingga perdagangan.

“Perkiraan food loss masih sekitar 25–30 persen dari total produksi komoditas. Persentase tersebut merupakan total food loss dari saat proses panen, pengepakan, pengangkutan, penyimpanan di gudang-gudang distribusi dan saat transaksi perdagangan,” ungkap Tejo.

Kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memperkirakan kehilangan dan pemborosan pangan di Indonesia selama 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun, dengan potensi kerugian ekonomi Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun. Data tersebut mencakup seluruh jenis pangan.

Menurut Tejo, sentra produksi dan pusat distribusi membutuhkan penguatan rumah kemas, fasilitas pengolahan, penyimpanan dingin serta kendaraan berpendingin untuk mengurangi kehilangan hasil setelah panen.

“Di pasar-pasar induk perlu cold storage untuk penyimpanan stok pedagang besar. Kendaraan-kendaraan berpendingin masih sangat dibutuhkan untuk mengurangi food loss,” ucapnya.

Selain infrastruktur, ia menekankan pentingnya informasi produksi dan harga secara waktu nyata hingga tingkat kabupaten dan kota agar pasokan dapat lebih cepat dimobilisasi dari wilayah surplus menuju daerah yang mengalami kekurangan.

“Perlu adanya informasi realtime atas jumlah produksi dan harga komoditas di setiap wilayah kota/kabupaten. Dengan adanya data harga per wilayah, maka bila terjadi harga tinggi di satu wilayah, dapat didrop komoditas dari wilayah surplus produksi,” ucap Tejo.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
  • Kartu Transportasi Bersubsidi Bocor, DPRD DKI Minta Data Diperketat
    Preview komentar:
    Membaca sorotan DPRD DKI mengenai kebocoran kartu transportasi ...
  • XLSMART Berhasil Raih Kinerja Solid Semester I 2026.
    Preview komentar:
    Keberhasilan XLSMART dalam memperluas cakupan 5G hingga 52 ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Ekonomi
XLSMART Berhasil Raih Kiner...
Luar Negeri
Leica Mencabut Nama Fotogra...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Harga Cabai Rawit Rp61.350/Kg, Telur Ayam Rp29.450/Kg

Harga Cabai Rawit Rp61.350/Kg, Telur Ayam Rp29.450/Kg

12 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.