Rekrut Mantan Pejabat AS, Mulai Terkuak Think Tank Singapura Diduga Bagian dari Operasi Intelejen Asing
📅 Senin, 10 Agu 2026, 15:49 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
SINGAPURA - Sebuah perusahaan yang terdaftar secara resmi di Singapura kini menjadi sorotan setelah penyelidikan menemukan sejumlah kejanggalan dalam aktivitasnya.
Dari Channel News Asia, perusahaan bernama Infoassa memperkenalkan diri sebagai think tank sekaligus konsultan yang bergerak di bidang geopolitik. Namun, di balik keberadaan digitalnya, ditemukan sejumlah tanda mencurigakan, mulai dari identitas pegawai yang diduga palsu hingga kegiatan yang ternyata tidak pernah berlangsung.
Yang membuat kasus ini semakin menarik adalah pola perekrutannya.
Infoassa diketahui memasang sejumlah lowongan untuk mencari orang-orang yang memiliki pengalaman bekerja di pemerintahan, militer, parlemen maupun lembaga kajian strategis.
Dalam laporan CNA, salah satu calon yang mereka dekati adalah seorang mantan pegawai pemerintah Amerika Serikat yang menggunakan nama samaran Maria.
Sebaiknya Anda baca juga:
Awalnya, tawaran tersebut terlihat seperti pekerjaan biasa. Maria ditawari posisi analis kebijakan jarak jauh yang sesuai dengan pengalaman dan keahliannya mengenai kawasan Indo-Pasifik.
Namun, kecurigaan mulai muncul setelah komunikasi dilakukan melalui alamat Gmail pribadi, bukan akun resmi organisasi.
Lebih mencurigakan lagi, Maria kemudian diminta mengerjakan sebuah tes tertulis mengenai rencana pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam tugas tersebut, ia diminta menganalisis strategi tekanan Washington dan bahkan diminta berusaha menghindari penggunaan informasi yang tersedia secara terbuka.
Sebagai imbalannya, ia dijanjikan 500 dolar AS apabila berhasil menyelesaikan tes tersebut.
Maria akhirnya memilih tidak melanjutkan proses tersebut.
“Saya berpikir, paling tidak mereka mencoba mencuri pekerjaan saya. Dalam kemungkinan terburuk, saya menduga ini merupakan upaya perekrutan intelijen asing,” katanya kepada CNA.
Kejanggalan bermunculan
Penyelidikan CNA kemudian menemukan sejumlah tanda bahaya lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!