Ekonomi Global Masuk Zona Risiko
📅 Jumat, 25 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPARIS – Ekonomi global menghadapi risiko perlambatan ketika tekanan inflasi kembali meningkat akibat gejolak geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Kombinasi tersebut dapat menekan daya beli, mempersempit ruang pelonggaran moneter, dan memperbesar ketidakpastian pemulihan ekonomi global.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memproyeksikan ekonomi global pada 2026 tumbuh 2,9 persen atau jauh di bawah prediksi pertumbuhan ekonomi pada 2025 sebesar 3,9 persen. Namun, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global kembali terakselerasi pada 2027 menjadi 3,0 persen.
“Pertumbuhan di perekonomian-perekonomian maju G20, serta di perekonomian-perekonomian pasar berkembang G20, diproyeksikan akan tetap stabil secara umum,” menurut Laporan Sementara Prospek Ekonomi yang dirilis OECD di Paris, Perancis, Rabu (23/9).
Meski demikian, inflasi utama G20 diperkirakan meningkat dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 4,1 persen pada 2026, sebelum melandai menjadi 3,6 persen pada 2027. Di sejumlah negara maju, inflasi utama diproyeksikan meningkat dari 2,5 persen pada 2025 menjadi 3,2 persen pada 2026, sebelum turun menjadi 2,6 persen pada 2027.
Sementara itu, di negara ekonomi yang tengah melesat atau emerging market G20, inflasi diperkirakan meningkat dari 4,1 persen menjadi 4,8 persen, sebelum melandai menjadi 4,3 persen.
OECD mengatakan proyeksi itu didasarkan pada asumsi teknis bahwa harga minyak mentah Brent dan harga gas TTF akan mencapai puncaknya pada kuartal keempat 2026 dan kemudian menurun secara bertahap hingga akhir 2027. Proyeksi harga minyak mentah Brent itu secara umum konsisten dengan skenario "gangguan singkat" dalam Prospek Ekonomi OECD edisi Juni 2026, sementara proyeksi harga gas sekitar 60 persen lebih tinggi.
Risiko Utama
Ketidakpastian konflik Timur Tengah menjadi risiko utama ekonomi global karena gangguan di Selat Hormuz, Bab al-Mandab, maupun fasilitas energi dapat memicu lonjakan harga energi berkepanjangan dan kelangkaan komoditas, terutama bagi negara-negara pengimpor bersih.
OECD menilai penyesuaian suku bunga masih mungkin diperlukan karena risiko kenaikan harga energi, tekanan permintaan, dan inflasi di atas target, sehingga bank sentral perlu memastikan tekanan inflasi terkendali secara berkelanjutan.
“Cadangan gas Eropa yang rendah dan ketidakpastian mengenai kemungkinan pengurangan lebih lanjut persediaan minyak di beberapa negara dapat memperburuk risiko gangguan pasokan,” demikian laporan OECD.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!