Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Krisis Iklim Ancam Produktivitas Kerja

📅 Jumat, 25 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Krisis Iklim Ancam Produktivitas Kerja Doc: Koran Jakarta /M Fachri
Ket. Pekerja berlalu-lalang di pedestrian Jalan Sudirman, Jakarta.

JAKARTA – Perubahan iklim tak hanya meningkatkan risiko lingkungan, tetapi juga menekan produktivitas tenaga kerja akibat paparan panas dan perubahan kondisi kerja. Di tengah dampak tersebut, pembahasan opsi rekayasa iklim oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa menunjukkan bahwa mitigasi pemanasan global mulai bergerak ke pendekatan teknologi, meski efektivitas, risiko, dan tata kelolanya tetap menjadi tantangan.

Peneliti Nanotechnology, Safarina G. Malik mengatakan perubahan iklim berdampak terhadap penurunan produktivitas kerja, terutama akibat tekanan panas. Meta-analisis terhadap 111 studi di 30 negara menemukan bahwa satu shift kerja dalam kondisi tekanan panas meningkatkan risiko heat strain hingga empat kali lipat, yang ditandai dengan kelelahan, dehidrasi, penurunan fokus, dan kesehatan mental.

Safarina menambahkan beban tubuh pekerja pada siang hari dapat menjadi empat kali lebih berat meski melakukan pekerjaan yang sama. “Sekitar 35 persen pekerja mengalami heat strain dan 30 persen kehilangan produktivitas, sementara 92,3 persen responden melaporkan pekerjaan mereka melambat akibat panas,” ujarnya di Jakarta, Kamis (24/9).

Penelitian lain di 21 negara juga menemukan hawa panas meningkatkan suhu tubuh, denyut jantung, dan dehidrasi. Kondisi tersebut membuat pekerja lebih lelah dan tidak produktif, tetapi mereka tetap bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan pangan, rumah tangga, dan tempat tinggal.

“Risiko kesehatan tersebut turut dialami petani dan nelayan Indonesia yang menghadapi dilema antara berhenti bekerja demi kesehatan atau terus bekerja demi pendapatan,” ujar Safarina.

Dia menegaskan krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, produktivitas tenaga kerja, ketahanan pangan, serta kesejahteraan sosial ekonomi kelompok yang bekerja di sektor pertanian dan perikanan.

Pengelolaan Radiasi

Sementara itu, Politisi di AS dan Uni Eropa (UE) dilaporkan tengah mempertimbangkan penggunaan teknologi rekayasa iklim berskala besar untuk mengurangi intensitas sinar matahari (solar dimming) sebagai salah satu upaya menanggulangi krisis pemanasan global. Teknologi tersebut dikenal sebagai solar geoengineering atau pengelolaan radiasi surya, menurut laporan Politico, Rabu (23/9) yang mengutip dua mantan pejabat pemerintah.

Wacana tersebut mendapat penolakan keras dari aktivis lingkungan karena teknologi ini dinilai berisiko merusak lapisan ozon pelindung bumi dan berpotensi mengubah pola cuaca alami di berbagai wilayah. Selain itu, intervensi rekayasa iklim dinilai tidak menyelesaikan akar persoalan pemanasan global, yaitu penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara.

Meski menuai kontroversi, seorang pakar menilai upaya mengurangi intensitas radiasi matahari secara buatan semakin relevan untuk dibahas seiring meningkatnya investasi pada berbagai perusahaan rintisan (startup) yang mengembangkan teknologi solar geoengineering.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
Klasemen Liga Champions: PSG Naik ke Puncak, Tiga Wakil Italia Terpuruk di Luar Zona Playoff

Klasemen Liga Champions: PSG Naik ke Puncak, Tiga Wakil Italia Terpuruk di Luar Zona Playoff

15 Oct 2026
Pilihan Pembaca
# 5
# 5
Rupiah Masih Rentan - 14 Oktober 2026
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.