Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kembali Dikepung Polusi, Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kelima di Dunia

📅 Jumat, 25 Sep 2026, 03:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kembali Dikepung Polusi, Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kelima di Dunia Doc: kj / wahyu ap
Ket. Adila Isfandiari Lead Researcher SUSTAIN - Polusi udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan risiko ekonomi nyata yang menggerus produktivitas dan meningkatkan biaya kesehatan publik.

JAKARTA - Kualitas udara di Jakarta pada Kamis (24/9) pagi masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat lima sebagai kota dengan udara terburuk di dunia. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.15 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 156 atau masuk dalam kategori tidak sehat, dengan polusi udara PM2.5 dengan nilai konsentrasi 63 mikrogram per meter kubik.

Angka tersebut menunjukkan tingkat kualitas udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Masyarakat pun disarankan agar sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan. Apabila berada di luar ruangan, maka sebaiknya menggunakan masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

Guru Besar Ilmu Hukum Lingkungan, Universitas Airlangga, Suparto Wijoyo, mengatakan kualitas udara Jakarta yang telah berulang kali jatuh ke peringkat tidak sehat memerlukan penanganan bersama dengan pemerintah pusat dan lintas daerah dan wilayah, dengan membuat regulasi jelas soal undang-undang pencemaran udara.

“Kondisi udara Ibu Kota sekarang ini tidak lepas dari konstalasi atmosfer Jakarta dan wilayah sekitarnya, mulai Jabodetabek, Banten, Teluk Jakarta, dan Lampung. Karena lintas wilayah, perlu ada campur tangan pusat untuk membuat regulasi. Pemerintah perlu menghidupkan kembali kelanjutan RUU pencemaran udara yang pada 2010 pernah dimulai tapi sampai sekarang belum terwujud. Ini sebagai common control untuk menekan permasalahan ini,” ungkapnya.

Selain itu, perlu ada desain ulang soal ketentuan Ruang Terbuka Hijau (RTH), agar lebih memberi dampak pada penyerapan emisi. “Regulasi 30 persen RTH sekarang merupakan luas dari kawasan. Agar bisa lebih efektif menyerap emisi, harus ada redesign bahwa prosentase itu diterapkan pada setiap persil atau gedung, apakah perkantoran, apartmen dan lainnya. Bisa di roof top atau area luar lainnya. Dengan mengutamakan jenis tanaman yang mampu lebih menyerap emisi. Ini sebagai self regulation, agar menjadi kesadaran bagi setiap pemilik bangunan bahwa kepedulian terhadap kualitas udara itu penting,” papar Suparto.

Gerus Produktivitas

Secara terpisah, pakar lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Arie Dipareza Syafei, mengatakan, jika memang benar angka IQ Air tersebut, perlu ada langkah antisipasi untuk antisipasi dari dampak kesehatan yang tidak diinginkan.

“Tentu harus ada tindakan dari reseptor diantaranya menggunakan masker, air purifier indoor, dan lainnya. Selain iQAir, saya sarankan install aplikasi ISPU KLH, agar lebih jelas infonya dan tentunya langsung dari KLH sebagai pemilik data,” kata Arie.

Begitu pun dengan Lead Researcher Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Adila Isfandiari yang menegaskan lonjakan angka PM2.5 di Jakarta adalah pengingat keras bahwa krisis polusi udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan risiko ekonomi nyata yang menggerus produktivitas dan meningkatkan biaya kesehatan publik.

“Lonjakan angka PM2.5 di Jakarta adalah pengingat keras bahwa krisis polusi udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan risiko ekonomi nyata yang menggerus produktivitas dan meningkatkan biaya kesehatan publik. Imbauan memakai masker atau menutup jendela hanyalah penanganan di titik akhir yang tidak menyelesaikan akar masalah,” kata Adila.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.