Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kenali Mastitis, Gangguan Menyusui yang Bisa Dicegah dan Ditangani

📅 Rabu, 05 Agu 2026, 19:05 WIB | Oleh:

Ibu juga disarankan tidak menggunakan bra yang terlalu ketat atau memberikan tekanan pada payudara. Kebersihan area puting perlu dijaga dan pelembap dapat digunakan apabila puting mulai kering atau lecet.

Konsultasi dengan dokter konselor laktasi juga dapat membantu ibu mengetahui teknik menyusui dan perlekatan yang tepat, terutama jika keluhan terjadi berulang.

Salah satu hal yang perlu dihindari adalah memerah ASI secara berlebihan atau overpumping. Praktik tersebut dapat meningkatkan produksi ASI melebihi kebutuhan bayi dan pada akhirnya memperbesar risiko terjadinya bendungan ASI serta mastitis.

Perlekatan dan Posisi Bayi Perlu Diperhatikan

Teknik menyusui yang tepat menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah gangguan selama proses menyusui. Pada saat menyusu, mulut bayi sebaiknya terbuka lebar dan sebagian besar area areola, terutama bagian bawah, masuk ke dalam mulut bayi. Dengan demikian, bayi tidak hanya mengisap bagian puting.

Posisi tubuh juga perlu dibuat senyaman mungkin. Kepala, leher, dan tubuh bayi sebaiknya berada dalam satu garis lurus, sementara dada bayi menempel pada dada ibu. Teknik ini membantu proses menyusui berjalan lebih efektif sekaligus mengurangi risiko masalah akibat perlekatan yang kurang optimal.

ASI Eksklusif Enam Bulan

Selain persoalan mastitis, ibu juga kerap menghadapi pertanyaan mengenai durasi pemberian ASI dan kondisi ketika ASI belum keluar banyak setelah melahirkan. Sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI, ASI eksklusif diberikan selama enam bulan pertama kehidupan bayi tanpa tambahan makanan atau minuman lain.

“Setelah enam bulan, pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI (MPASI) hingga anak berusia dua tahun atau lebih,” jelas Anastasia.

Sementara itu, ASI tidak selalu langsung keluar dalam jumlah banyak pada hari pertama setelah persalinan. Pada 1-3 hari pertama, payudara menghasilkan kolostrum, yakni cairan kaya zat gizi dan antibodi dalam jumlah yang relatif sedikit, tetapi sesuai dengan kapasitas lambung bayi baru lahir.

Stimulasi dengan menyusui sesering mungkin dan melakukan kontak kulit dengan kulit atau skin-to-skin contact dapat membantu merangsang hormon oksitosin dan prolaktin. Produksi ASI biasanya mulai meningkat pada hari ketiga hingga kelima setelah melahirkan, meski waktunya dapat berbeda pada setiap ibu.

Kelancaran produksi ASI pada dasarnya mengikuti prinsip supply and demand. Semakin sering payudara dikosongkan sesuai kebutuhan bayi, semakin banyak ASI yang cenderung diproduksi tubuh.

Selain itu, ibu perlu memenuhi kebutuhan nutrisi secara seimbang, mencukupi kebutuhan cairan sesuai rasa haus, mengelola stres, dan mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Ekonomi
Lebih dari 150 Perusahaan M...
Luar Negeri
Slovakia Minta Uni Eropa Fo...
Daerah
BNPB Umumkan Banjir di Kota...

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

05 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.