Negara-Negara Kecil Bisa Jadi Penentu Nasib Infantino di Tengah Krisis Kepemimpinan FIFA
📅 Selasa, 04 Agu 2026, 00:06 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraMELBOURNE – Masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA kini berada di persimpangan. Di tengah gelombang kritik dari konfederasi-konfederasi besar sepak bola dunia, peluang Infantino mempertahankan jabatannya justru diyakini bergantung pada dukungan negara-negara kecil yang selama ini memperoleh manfaat besar dari program pendanaan FIFA.
Infantino menghadapi krisis terbesar sepanjang hampir satu dekade kepemimpinannya setelah UEFA dan CONCACAF menyatakan tidak lagi menaruh kepercayaan terhadap kepemimpinannya. Pemicu utama adalah gagalnya rencana FIFA menggandeng perusahaan ekuitas swasta dalam pengelolaan aspek komersial Piala Dunia.
Meski telah mengonfirmasi akan kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat pada Kongres FIFA tahun depan, tekanan terhadap pria asal Swiss berusia 56 tahun itu diperkirakan tidak akan menunggu hingga proses pemilihan berlangsung.
Federasi Sepak Bola Wales menjadi asosiasi nasional pertama yang secara resmi mencabut dukungan terhadap Infantino. Sementara itu, UEFA mengonfirmasi telah mengirim surat kepada sang presiden FIFA dan tengah mempertimbangkan langkah hukum terkait proposal penjualan saham tersebut.
Berdasarkan Statuta FIFA, lawan-lawan politik Infantino dapat mengajukan Kongres Luar Biasa (Extraordinary Congress) apabila sedikitnya 20 persen dari 211 asosiasi anggota FIFA mengajukan permintaan tertulis.
Jika syarat itu terpenuhi, kongres harus digelar dalam waktu tiga bulan. Forum tersebut dapat membuka jalan bagi munculnya kandidat baru sekaligus pemungutan suara untuk menentukan apakah Infantino masih layak memimpin organisasi sepak bola terbesar di dunia.
Dengan 55 anggota, UEFA sebenarnya mampu memicu penyelenggaraan Kongres Luar Biasa apabila seluruh anggotanya bersatu. Namun, menggulingkan Infantino tetap bukan perkara mudah karena setiap negara anggota FIFA memiliki hak suara yang sama, tanpa memandang ukuran, prestasi, maupun kekuatan finansial sepak bolanya.
Kondisi tersebut membuat negara-negara kecil seperti Bhutan maupun Vanuatu berpotensi memegang peranan penting dalam menentukan arah kepemimpinan FIFA.
Selama siklus Piala Dunia 2023-2026, setiap asosiasi anggota FIFA berhak memperoleh dana pengembangan hingga 3 juta dolar AS, meningkat 1 juta dolar dibandingkan siklus sebelumnya.
Bagi negara-negara sepak bola mapan seperti Prancis, Spanyol, atau Inggris, angka tersebut mungkin tidak terlalu signifikan. Namun bagi negara berkembang, dana itu menjadi sumber utama pembangunan infrastruktur, pembinaan pemain muda, hingga penyelenggaraan kompetisi domestik.
Karena itu, banyak asosiasi dari Asia, Afrika, Karibia, dan Pasifik tetap memberikan dukungan kepada kepemimpinan Infantino yang dinilai telah memperluas akses pendanaan bagi mereka.
Salah satu contoh paling menonjol adalah Vanuatu, yang kini berada di peringkat 160 dunia.
Ketua Federasi Sepak Bola Vanuatu, Lambert Maltock, bahkan duduk sebagai salah satu dari delapan wakil presiden dalam Dewan FIFA.
FIFA juga menggelontorkan dana pembangunan sebesar 4,15 juta dolar AS untuk membantu pembangunan stadion berkapasitas 6.500 penonton di ibu kota Port Vila yang selesai dibangun pada 2022.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!