Kepercayaan Konsumen Asia Tenggara pada Teknologi Tinggi, tetapi Toleransi terhadap Insiden Rendah
📅 Minggu, 02 Agu 2026, 21:23 WIB | Oleh: Haryo BronoBerbeda dengan kategori tersebut, telekomunikasi menunjukkan tingkat penarikan diri paling rendah. Hanya sekitar 2 persen responden secara keseluruhan yang menyatakan akan meninggalkan layanan telekomunikasi. Salah satu faktornya adalah posisi telekomunikasi yang sulit digantikan karena berkaitan dengan komunikasi, pekerjaan, dan akses terhadap berbagai layanan lainnya.
CEO Dituntut Bertanggung Jawab, tetapi Bukan Sumber Paling Dipercaya
Ketika terjadi kegagalan, konsumen tetap menuntut akuntabilitas dari pimpinan perusahaan. Sebanyak 33 persen responden di Asia Tenggara menilai CEO atau pendiri perusahaan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kegagalan.
Namun, posisi tersebut tidak otomatis menjadikan CEO atau pendiri sebagai sumber informasi yang paling dipercaya setelah insiden.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pakar keamanan siber independen justru menjadi sumber informasi pascainsiden yang paling dipercaya di empat pasar. Di Indonesia, tingkat kepercayaannya mencapai 51 persen, sedangkan di Vietnam 44 persen.
Singapura menjadi pengecualian. Di negara tersebut, pemerintah menjadi sumber informasi pascainsiden yang paling dipercaya, dengan tingkat kepercayaan mencapai 43 persen.
Menurut Executive Account Director Vero Indonesia Diah Andrini Dewi, kebocoran data tidak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan keamanan, tetapi juga menjadi ujian terhadap kepercayaan konsumen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mengeluarkan pernyataan resmi ketika menghadapi krisis. Transparansi, langkah perbaikan yang nyata, serta keterlibatan pihak independen yang kredibel dinilai penting untuk meyakinkan konsumen bahwa persoalan ditangani secara bertanggung jawab.
Kepatuhan dan Rekam Jejak Jadi Penentu
Studi tersebut juga mengidentifikasi tiga faktor utama yang menjadi dasar konsumen dalam menilai apakah sebuah perusahaan teknologi dapat dipercaya, yakni kepatuhan terhadap aturan, rekam jejak, dan transparansi.
Di Singapura, Malaysia, dan Filipina, persetujuan pemerintah serta kepatuhan terhadap regulasi menjadi sinyal kepercayaan yang paling kuat. Persentasenya masing-masing 36 persen, 28 persen, dan 23 persen.
Indonesia menunjukkan pola berbeda. Sebanyak 43 persen responden Indonesia lebih memilih rekam jejak yang telah terbukti sebagai indikator utama bahwa sebuah merek teknologi dapat dipercaya.
Sementara itu, konsumen Thailand dan Vietnam lebih menekankan pentingnya penjelasan mengenai bagaimana data mereka digunakan. Faktor tersebut dipilih oleh masing-masing 26 persen responden di kedua negara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!