Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ambisi Adopsi AI di Indonesia Terhambat Kesiapan Digital dan Pengalaman Karyawan

📅 Kamis, 02 Jul 2026, 18:33 WIB | Oleh:
 Ambisi Adopsi AI di Indonesia Terhambat Kesiapan Digital dan Pengalaman Karyawan Doc: Lark
Ket. Poster laporan riser berjudul The Paradox of Progress: Why a Broken Employee Experience is Sabotaging Adoption of AI in the Workplace yang dirilis perusahaan penyedia platform AI workspace, Lark.

JAKARTA – Ambisi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mengadopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus meningkat. Namun, transformasi digital dinilai masih menghadapi tantangan besar karena pengalaman karyawan yang belum optimal, rendahnya kesiapan digital organisasi, serta kesenjangan kepercayaan terhadap penggunaan AI di tempat kerja.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan terbaru bertajuk The Paradox of Progress: Why a Broken Employee Experience is Sabotaging Adoption of AI in the Workplace yang dirilis perusahaan penyedia platform AI workspace, Lark.

Riset tersebut melibatkan survei double-blind oleh lembaga independen terhadap 900 perusahaan dan lebih dari 5.000 karyawan di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Hasil riset menunjukkan sembilan dari sepuluh perusahaan di Indonesia telah berupaya membangun budaya kerja yang terbuka terhadap teknologi AI. Meski demikian, hanya 19 persen organisasi yang menilai tingkat kematangan digital mereka sudah tinggi, sementara lebih dari separuh perusahaan masih berada pada tahap awal eksperimen dalam penerapan AI.

Laporan itu menyoroti adanya kesenjangan antara ambisi pimpinan perusahaan dalam mengadopsi AI dan kondisi nyata yang dihadapi karyawan sehari-hari. Transformasi digital yang selama ini lebih berfokus pada pengembangan sistem dibandingkan pengalaman pengguna dinilai menciptakan lingkungan kerja yang terfragmentasi dan berpotensi menghambat pemanfaatan AI secara optimal.

General Manager Asia Pacific Lark, Olivier Adam, mengatakan organisasi di Asia Tenggara saat ini berada pada titik penting dalam perjalanan adopsi AI.

"Kita berada pada momen penting bagi adopsi AI di Asia Tenggara, tetapi riset ini menunjukkan bahwa fondasinya belum sekuat yang diyakini banyak pemimpin. Karyawan merasa kewalahan, belum cukup dibekali, dan semakin jauh dari keputusan yang memengaruhi cara mereka bekerja," ujar Olivier melalui keterangannya pada hari Kamis (2/7).

Menurutnya, organisasi berisiko mempercepat transformasi yang keliru apabila terus menambahkan teknologi AI tanpa lebih dahulu memperbaiki pengalaman kerja karyawan.

Empat tantangan utama

Laporan Lark mengidentifikasi empat tantangan utama yang menghambat transformasi digital di perusahaan Indonesia.

Pertama, investasi digital dinilai masih terlalu berorientasi pada efisiensi biaya. Departemen teknologi informasi (79 persen), keuangan (77 persen), dan pemasaran (70 persen) menjadi fungsi yang paling banyak terdigitalisasi. Sebaliknya, bidang sumber daya manusia dan pengalaman karyawan baru mencapai 54 persen.

Kedua, bertambahnya jumlah aplikasi justru meningkatkan kompleksitas pekerjaan. Sebanyak 58 persen responden mengaku kehilangan sedikitnya tiga jam kerja setiap pekan akibat inefisiensi kolaborasi digital. Selain itu, 49 persen merasa kewalahan karena harus menggunakan terlalu banyak aplikasi, sedangkan 48 persen harus membuka beberapa platform setiap jam hanya untuk mengikuti perkembangan pekerjaan.

Ketiga, laporan menemukan adanya kesenjangan inovasi. Meski 89 persen perusahaan mengklaim mendukung inovasi karyawan, hanya 31 persen pekerja yang merasa memiliki keleluasaan untuk mengajukan ide baru. Hanya 42 persen responden yang merasa memiliki kendali terhadap perangkat kerja yang digunakan, sementara 77 persen menilai inovasi di tempat kerja masih berlangsung secara tidak merata.

Keempat, kesiapan tenaga kerja menghadapi AI masih rendah. Sebanyak 86 persen karyawan mengaku membutuhkan pelatihan tambahan mengenai keamanan siber dan produktivitas berbasis AI. Namun, hanya 36 persen yang merasa telah memperoleh pelatihan memadai untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
  • Indonesia Kantongi 5 Medali Asian Games
    persaingan ketat, mungkinkah kontingen Indonesia bisa masuk 3 ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Olahraga
UEFA Nations League: Rashfo...
Megapolitan
Inovatif, Ada Layanan Mobil...
Ekonomi
Rupiah Masih Rentan - 22 Se...
Advertisement
Luke Vickery Hingga Maarten Paes Tiba di Jakarta, Skuad Mewah John Herdman Siap Mengguncang FIFA ASEAN Cup 2026

Luke Vickery Hingga Maarten Paes Tiba di Jakarta, Skuad Mewah John Herdman Siap Mengguncang FIFA ASEAN Cup 2026

21 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.