Keiko Fujimori Resmi Jadi Presiden Peru, Fokus Perangi Kejahatan
📅 Rabu, 29 Jul 2026, 11:24 WIB | Oleh: Tim PenulisBOGOTA – Keiko Fujimori resmi menjadi Presiden Peru usai dilantik pada Selasa (28/7), sehingga menjadi perempuan pertama yang terpilih secara demokratis untuk memimpin negara tersebut.
Tak lama usai dilantik sebagai presiden untuk masa jabat 2026–2031, pemimpin berhaluan konservatif berusia 51 tahun tersebut langsung mengumumkan pendekatan keras untuk menjaga keamanan dalam negeri.
Ia memberi wewenang kepada angkatan bersenjata untuk menjaga ketertiban umum di wilayah-wilayah yang paling terdampak kejahatan terorganisasi.
Dalam pidatonya di Istana Parlemen di Lima, Fujimori mendeklarasikan "perang" terhadap berbagai organisasi kriminal, pengedar narkoba, dan penambangan ilegal di seantero Peru.
"Dalam kondisi darurat, angkatan bersenjata secara sementara memimpin operasi keamanan dan menjaga ketertiban umum melalui koordinasi dekat dengan pihak kepolisian," kata Fujimori dalam pidato perdananya sebagai presiden.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Di mana pun kejahatan terorganisasi, perdagangan narkoba, dan penambangan ilegal merebut kuasa dari negara, kami akan memanfaatkan semua kewenangan yang diberikan kepada pemerintah oleh konstitusi," ucap dia.
Di samping pengerahan militer, Fujimori juga berjanji akan memperkuat kepolisian nasional melalui dukungan politik, peremajaan peralatan, dan perluasan wewenang institusi.
Untuk mengatasi kenaikan biaya hidup dan stagnasi ekonomi, dia mengumumkan kenaikan upah minimum nasional sebesar 15 persen dari 1.130 soles (Rp6,02 juta) menjadi 1.300 soles (Rp6,92 juta) per bulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia juga menegaskan komitmen mempertahankan kerangka ekonomi pasar bebas Peru, di samping mengimplementasikan reformasi keamanan publik yang menyeluruh.
Upacara pelantikan Fujimori diwarnai dinamika polarisasi politik di ruang sidang parlemen.
Beberapa saat sebelum dia memulai pidatonya, legislator dari pihak oposisi, seperti dari partai Juntos por el Peru dan Ahora Nacion, melakukan aksi "walk out" dari ruang sidang.
Dengan mengenakan pakaian hitam dan pita duka cita, para legislator oposisi berteriak "Keadilan untuk para korban!" sembari memegang foto orang-orang yang dibunuh sepanjang 1990--2000 pada masa jabat Presiden Alberto Fujimori, ayah dari Keiko Fujimori, yang kemudian dipenjara atas kejahatan terhadap kemanusiaan.`
Keiko tetap diam di mimbar ruang sidang hingga para legislator oposisi keluar ruangan.
Meski dengan adanya ketegangan domestik, upacara pelantikan Keiko Fujimori tetap dihadiri pemimpin sejumlah negara sahabat, seperti Raja Felipe IV dari Spanyol, Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Chile Jose Antonio Kast, Presiden Bolivia Rodrigo Paz, dan Presiden Argentina Javier Milei.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!