Tak Sekadar Lindungi Pesisir, Mangrove Kure Caddi Kini Jadi Sumber Penghidupan Warga.
📅 Sabtu, 25 Jul 2026, 19:17 WIB | Oleh: Yebdi TrismarPagi itu, ia tampak bahagia saat dijemput istrinya, Irma. Hasil tangkapannya diperkirakan mencapai enam kilogram, sementara harga kepiting sedang naik, yakni sekitar Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram.
Namun, Rudi juga mengeluhkan semakin banyaknya warga dari luar Kure Caddi yang ikut mencari kepiting di kawasan mangrove.
Menurutnya, hal itu tidak adil. Masyarakat Kure Caddi selama ini menjaga kelestarian mangrove, tetapi warga dari luar kampung turut mengambil hasil dari ekosistem tersebut.
Kekhawatiran terhadap kerusakan mangrove itu pula yang mendorong masyarakat setempat menerapkan aturan yang melarang warga dari luar masuk dan berburu hasil tangkapan di kawasan mangrove Kure Caddi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemandirian ekonomi perempuan
Kebangkitan ekonomi masyarakat di sekitar mangrove juga mulai terasa melalui berbagai inovasi pemanfaatan tanaman mangrove. Dampaknya tidak hanya dirasakan para nelayan, yang mayoritas laki-laki, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan.
Salah satunya dirasakan Dg. Cora. Selama tujuh tahun menjadi janda, ia berhasil membangun kemandirian ekonomi melalui pemanfaatan daun mangrove jenis Acanthus yang diolah menjadi teh herbal.
Namun, prosesnya tidak mudah. Daun Acanthus yang dipetik langsung dari kawasan mangrove memiliki duri-duri tajam. Karena itu, proses pemanenannya harus dilakukan dengan hati-hati, menggunakan bantuan kayu dan alas karung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perempuan yang memiliki tujuh anak itu mengaku sebulan sekali mengendarai motornya sendiri menuju kawasan hutan mangrove. Berbekal batang kayu dan karung, ia memetik langsung bahan baku teh herbal yang diberi nama “Kalli-kalli”.
Nama tersebut berarti jeruju, merujuk pada tanaman Acanthus yang memiliki batang dan daun berduri tajam.
Satu karung daun Acanthus yang telah dicacah dan dikeringkan dapat menghasilkan sekitar satu toples berukuran sedang. Teh itu kemudian dikemas dalam kantong celup dan menghasilkan sekitar 10–15 kotak untuk dijual seharga Rp15.000 per kotak. Setiap kotak berisi 10 kantong teh celup.
Menurut Cora, proses pengemasan membutuhkan modal untuk membeli kotak, plastik, dan wadah teh celup. Sekali produksi, ia mengeluarkan sekitar Rp70.000. Teh herbal itu diyakini membantu mengurangi rasa lelah dan pegal-pegal.
“Kita bersyukur, dari sini (teh Kalli-kalli) saya punya pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang belum banyak karena penjualannya belum luas, tetapi sudah sangat membantu, misalnya untuk membeli minyak goreng,” katanya sambil tersenyum ramah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!