Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tak Sekadar Lindungi Pesisir, Mangrove Kure Caddi Kini Jadi Sumber Penghidupan Warga.

📅 Sabtu, 25 Jul 2026, 19:17 WIB | Oleh:

Manfaat mangrove tidak hanya dirasakan manusia. Kawasan ini juga menjadi habitat alami bagi berbagai biota, seperti kepiting bakau, udang, dan ikan.



Sumber ekonomi baru

Mangrove bukan hanya menjadi tempat berlindung bagi perahu nelayan. Ekosistem yang terus meluas hingga menutupi sekitar 12 hektar kawasan Kure Caddi itu juga menjadi penopang ekonomi dan membuka sumber mata pencaharian baru bagi warga.

Bagi masyarakat Dusun Kure Caddi yang sebagian besar berada pada kelompok ekonomi menengah ke bawah, hutan bakau yang tumbuh di bekas tambak terbengkalai menjadi sumber penghidupan baru. Warga yang selama ini sangat bergantung pada hasil laut kini memiliki pilihan lain untuk menyambung hidup, tidak lagi hanya mengandalkan penangkapan rajungan.

Kepiting bakau dan tiram menjadi sumber rezeki baru yang bisa ditemukan di kawasan tersebut.

Latif, yang juga menjadi pengepul hasil tangkapan kepiting warga Kure Caddi, mengatakan mangrove tidak hanya berfungsi melindungi perahu, tetapi juga berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat.

Ayah empat anak itu menuturkan, sejumlah nelayan remaja kerap mendatanginya untuk menjual tiram yang mereka kumpulkan di balik bebatuan di sekitar kawasan mangrove. Hasilnya dapat menambah pendapatan keluarga.

Menurut Latif, tiram biasanya dijual dalam kantong plastik berukuran sekitar setengah kilogram dengan harga Rp10.000. Nilainya memang sederhana, tetapi cukup membantu perekonomian warga pesisir.

Manfaat itu semakin terasa ketika angin barat kembali datang, membawa angin kencang dan hujan lebat yang membuat nelayan tak dapat melaut demi keselamatan.

Pada saat seperti itu, sebagian nelayan beralih mencari kepiting bakau di sekitar hutan mangrove. Bagi nelayan kepiting rajungan, aktivitas ini menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika musim penghujan tiba.

Sebagian lainnya bahkan beralih sepenuhnya menjadi nelayan kepiting bakau karena aksesnya lebih mudah, lokasinya lebih dekat, dan risikonya lebih kecil.



Rudi, salah satu nelayan yang kerap melakoni dua ikhtiar mencari rezeki itu, kadang ke laut lepas mencari kepiting rajungan dan juga menyisiri hutan bakau mencari kepiting bakau. Menurut dia, pekerjaan itu merupakan bagian dari tanggung jawab menafkahi istri dan dua anaknya.

Harga kepiting memang fluktuatif. Bahkan, harganya bisa turun hingga Rp35.000 per kilogram. Padahal, nelayan harus mengeluarkan modal untuk membeli umpan, bahan bakar minyak (BBM), bekal, rokok, serta merawat perahu yang digunakan setiap hari.

Umumnya, nelayan Kure Caddi melaut hingga tiga kali dalam sehari untuk menangkap rajungan. Setiap perjalanan berlangsung sekitar empat hingga lima jam. Rudi, misalnya, telah meninggalkan rumah sejak subuh, selepas salat Subuh, ketika ditemui sekitar pukul 09.00.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
kj cup 26

Open Dining of Jakarta, Wisata Kuliner Baru di Atas Bus dengan Panorama Ibu Kota

Open Dining of Jakarta, Wisata Kuliner Baru di Atas Bus dengan Panorama Ibu Kota

25 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.