Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Diet Mediterania: Bisa Makan Enak Tapi Tetap Sehat

📅 Rabu, 22 Jul 2026, 01:07 WIB | Oleh:
Diet Mediterania: Bisa Makan Enak Tapi Tetap Sehat Doc: Shutterstock

JAKARTA - Kalau tujuanmu menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang, diet Mediterania dan pola makan sesuai pedoman American Heart Association (AHA) dinilai lebih efektif dibandingkan diet rendah lemak. Kesimpulan itu diungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah American Journal of Clinical Nutrition.

Dilansir dari Eating Well, penelitian tersebut menganalisis risiko penyakit kardiovaskular selama 20 tahun menggunakan data dari dua studi kesehatan jangka panjang di Amerika Serikat, yaitu Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan metode target trial emulation, yaitu pendekatan yang memanfaatkan data observasional untuk mensimulasikan uji klinis acak. Mereka membandingkan tiga pola makan, yakni diet Mediterania, pola makan berdasarkan pedoman AHA 2020, dan diet rendah lemak.

Diet Mediterania menekankan konsumsi makanan seperti minyak zaitun, kacang-kacangan, ikan, sayuran, serta polong-polongan. Sementara itu, pola makan sesuai pedoman AHA lebih berfokus pada buah-buahan, sayuran, ikan, dan biji-bijian utuh.

Di sisi lain, diet rendah lemak mengharuskan pelakunya membatasi konsumsi makanan berlemak, termasuk makanan yang digoreng, kacang-kacangan, ikan berlemak, hingga minyak yang digunakan untuk memasak atau sebagai saus salad.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok dengan risiko tinggi terkena penyakit jantung, peluang mengalami penyakit kardiovaskular selama 20 tahun mencapai 35,9 persen pada mereka yang menjalani diet rendah lemak.

Angka tersebut lebih rendah pada kelompok yang menerapkan diet Mediterania, yaitu sebesar 28,2 persen. Sementara peserta yang mengikuti pola makan sesuai pedoman AHA memiliki estimasi risiko sebesar 31,2 persen.

Peneliti juga menemukan bahwa kedua pola makan tersebut berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner, kematian akibat penyakit kardiovaskular, serta kematian karena berbagai penyebab. Namun, penelitian ini tidak menemukan penurunan risiko stroke yang signifikan.

Pada masyarakat umum, manfaat kedua pola makan tersebut tetap terlihat meski tidak sebesar pada kelompok yang memiliki risiko tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa pola makan sehat berpotensi memberikan manfaat bagi siapa saja, terutama mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Meski begitu, peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, penelitian hanya menunjukkan adanya hubungan antara pola makan dan risiko penyakit, bukan membuktikan bahwa pola makan secara langsung menjadi penyebab turunnya risiko tersebut.

Selain itu, data pola makan diperoleh dari laporan para peserta sehingga masih berpotensi mengandung kesalahan. Mayoritas responden juga merupakan tenaga kesehatan berkulit putih di Amerika Serikat, sehingga hasil penelitian belum tentu berlaku untuk seluruh populasi.

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menilai bahwa sekadar mengurangi konsumsi lemak belum tentu cukup untuk menjaga kesehatan jantung jika tidak dibarengi pola makan yang bergizi seimbang.

Sebaliknya, pola makan yang kaya akan sayuran, polong-polongan, ikan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan minyak zaitun dinilai lebih berkontribusi dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan hanya berfokus pada pembatasan lemak. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Menko PMK Ajak Anak Berani Laporkan Kasus Kekerasan

31 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menko PMK Ajak Anak Berani ...
Nasional
Marcell Siahaan Ungkap "AI"...
Prabowo Resmi Lantik Donny Ermawan sebagai Gubernur Universitas Republik Indonesia

Prabowo Resmi Lantik Donny Ermawan sebagai Gubernur Universitas Republik Indonesia

22 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.