Misteri Kepunahan Massal 252 Juta Tahun Lalu Terpecahkan
📅 Selasa, 21 Jul 2026, 07:22 WIB | Oleh: Haryo BronoSalah satu kelompok yang paling terdampak adalah brachiopoda. Sekilas, hewan ini tampak seperti kerang karena sama-sama memiliki dua cangkang. Namun, keduanya berasal dari garis evolusi yang berbeda.
Selama ratusan juta tahun sebelum peristiwa The Great Dying, brachiopoda merupakan penghuni dominan dasar laut. Fosil mereka sangat melimpah pada batuan berumur Paleozoikum. Namun setelah kepunahan massal, populasinya anjlok drastis.
Saat ini hanya sekitar 400 spesies brachiopoda yang masih bertahan di seluruh dunia, sebagian besar hidup di laut dalam atau wilayah perairan dingin. Selain brachiopoda, kelompok lain seperti crinoid (lili laut), spons tertentu, serta berbagai organisme dasar laut yang hidup menetap juga mengalami penurunan populasi yang sangat besar.
Kerang dan Siput Memiliki ‘Senjata Rahasia’
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebaliknya, kelompok moluska seperti kerang, siput, remis, hingga tiram justru menunjukkan ketahanan yang jauh lebih baik. Sekitar separuh spesies moluska mampu melewati masa krisis tersebut. Setelah kondisi lingkungan membaik, mereka berkembang sangat pesat dan mengisi berbagai relung ekologi yang ditinggalkan spesies-spesies yang punah.
Kini, kelompok bivalvia yang mencakup kerang, remis, dan tiram diperkirakan memiliki sekitar 10.000 hingga 15.000 spesies yang hidup di laut maupun perairan tawar. Dominasi mereka di lautan modern merupakan konsekuensi langsung dari kemampuan bertahan selama bencana 252 juta tahun lalu.
Penulis utama penelitian, Jose Andres Marquez, mengatakan timnya berupaya menjawab pertanyaan sederhana yang telah lama menarik perhatian para ahli paleontologi. “Kami ingin memahami mengapa ketika berjalan di pantai, kita lebih sering menemukan cangkang kerang dan siput daripada brachiopoda,” ujar dia dikutip dari Scitech Daily.
Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut ternyata berkaitan erat dengan kemampuan fisiologis masing-masing kelompok hewan dalam menghadapi tekanan lingkungan ekstrem.
Tidak Mengandalkan Fosil
Salah satu keunggulan penelitian ini adalah pendekatan yang digunakan. Alih-alih hanya menganalisis fosil, para peneliti juga mempelajari fisiologi berbagai hewan laut modern yang dianggap mewakili kelompok purba.
Mereka mengumpulkan brachiopoda hidup dari Kepulauan San Juan di Washington, Amerika Serikat. Hewan-hewan tersebut kemudian ditempatkan di ruang eksperimen khusus yang memungkinkan ilmuwan mengatur suhu dan kadar oksigen secara presisi.
Dalam percobaan tersebut, suhu air dinaikkan secara bertahap sambil mengukur konsumsi oksigen setiap organisme. Hasilnya menunjukkan bahwa brachiopoda sebenarnya cukup tahan terhadap kadar oksigen rendah ketika suhu air masih dingin. Namun begitu suhu meningkat, kebutuhan oksigen mereka melonjak tajam.
Masalahnya, sistem pernapasan dan struktur tubuh brachiopoda tidak mampu meningkatkan penyerapan oksigen secara signifikan sehingga mereka mengalami tekanan fisiologis yang sangat berat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!