Misteri Kepunahan Massal 252 Juta Tahun Lalu Terpecahkan
📅 Selasa, 21 Jul 2026, 07:22 WIB | Oleh: Haryo BronoLebih Mudah Beradaptasi
Sebaliknya, kelompok hewan yang memiliki aktivitas lebih tinggi menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih baik. Kerang, siput, bulu babi, bintang laut, hingga ikan memiliki otot yang lebih berkembang, sistem sirkulasi yang lebih efisien, serta organ pernapasan yang mampu meningkatkan suplai oksigen ketika suhu lingkungan meningkat. Kemampuan tersebut memberi mereka peluang lebih besar untuk bertahan hidup di lautan yang semakin panas.
Profesor Erik Sperling dari Stanford Doerr School of Sustainability sekaligus penulis senior penelitian mengatakan hasil eksperimen ini menjadi bukti yang sangat kuat mengenai penyebab utama kepunahan massal Permian-Triassic.
Menurutnya, pemanasan global yang diikuti penurunan kadar oksigen laut merupakan kombinasi faktor yang paling menentukan tingkat kelangsungan hidup berbagai kelompok organisme.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lautan Modern Dibentuk oleh Para Penyintas
Temuan ini juga menjelaskan mengapa komposisi kehidupan laut saat ini sangat berbeda dibandingkan sebelum kepunahan massal. Sebelum The Great Dying, dasar laut didominasi brachiopoda dan berbagai organisme yang hidup menetap.
Namun setelah bencana tersebut, ruang ekologis yang kosong dimanfaatkan oleh kelompok penyintas seperti moluska, ikan bertulang, echinodermata modern, serta berbagai predator baru. Fenomena ini mirip dengan kepunahan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu yang kemudian membuka jalan bagi mamalia untuk berkembang menjadi kelompok hewan dominan di daratan. Dengan kata lain, laut yang dikenal sekarang sebenarnya merupakan hasil dari proses evolusi panjang yang dipicu oleh satu bencana global.
Pelajaran Penting bagi Perubahan Iklim Modern
Selain pemanasan dan berkurangnya oksigen, penelitian juga menunjukkan bahwa pengasaman laut akibat meningkatnya karbon dioksida kemungkinan memperburuk kondisi lingkungan, meski bukan menjadi penyebab utama kepunahan.
Para peneliti menilai interaksi antara suhu tinggi, deoksigenasi, dan pengasaman laut menciptakan tekanan berlapis yang sulit diatasi oleh banyak organisme. Tim Stanford berencana memperluas penelitian terhadap kelompok hewan laut lainnya untuk memahami bagaimana berbagai spesies merespons kombinasi perubahan lingkungan tersebut.
Temuan ini juga memiliki relevansi penting bagi kondisi Bumi saat ini. Lautan modern diketahui sedang mengalami pemanasan akibat perubahan iklim. Seiring meningkatnya suhu, kandungan oksigen terlarut juga terus menurun, sementara banyak organisme membutuhkan lebih banyak oksigen untuk mempertahankan metabolisme mereka.
Meski kondisi saat ini belum menyamai skala bencana 252 juta tahun lalu, mekanisme biologis yang terjadi dinilai memiliki kemiripan. Para ilmuwan mengingatkan bahwa jika emisi gas rumah kaca terus meningkat tanpa pengendalian, perubahan lingkungan laut dapat menjadi semakin ekstrem dan berdampak pada keanekaragaman hayati.
Profesor Sperling menegaskan bahwa masih ada peluang untuk menghindari skenario terburuk. Menurutnya, berbeda dengan peristiwa Permian-Triassic yang dipicu proses alam dan berlangsung selama ribuan tahun, manusia saat ini memiliki pengetahuan ilmiah serta kemampuan teknologi untuk mengurangi emisi dan memperlambat laju pemanasan global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!