Sampah Jadi Listrik, Wali Kota Sebut PSEL Galuga–Kayumanis Dongkrak EBT Nasional
📅 Selasa, 30 Jun 2026, 13:10 WIB | Oleh: Tim PenulisBOGOR – Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan upaya strategis untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni pengelolaan sampah perkotaan dan peningkatan bauran energi.
Dengan mengonversi sampah menjadi sumber energi, PSEL berpotensi mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), menekan emisi gas rumah kaca, serta menghasilkan pasokan listrik yang lebih berkelanjutan.
Namun, keberhasilan proyek ini bergantung pada kepastian regulasi, skema pembiayaan yang menarik, ketersediaan pasokan sampah yang memadai, serta pengawasan terhadap standar teknologi dan dampak lingkungan agar manfaat ekonomi dan ekologinya dapat berjalan secara seimbang.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menyebut pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Galuga dan Kayumanis, Bogor, Jawa Barat, menjadi langkah strategis mengurangi ketergantungan batu bara sekaligus memperkuat pemanfaatan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional.
"PSEL itu harapan masa depan Indonesia. Kita akan memiliki alternatif energi baru terbarukan," kata Dedie di Bogor, Selasa (30/6).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Galuga dan Kayumanis menjadi bagian dari upaya mendorong transisi energi di tengah tingginya kebutuhan listrik nasional yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
PSEL Galuga rencananya akan mampu mengolah sampah hingga 1.500 ton per hari, sedangkan PSEL Kayumanis akan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.000 ton per hari.
Dedie menjelaskan, kebutuhan bahan bakar minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 700 ribu barel per hari. Di sektor ketenagalistrikan, penggunaan batu bara juga masih mendominasi sehingga pengembangan energi baru terbarukan perlu terus dipercepat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai ilustrasi, PLTU Suralaya di Banten membutuhkan sekitar 32 ribu ton batu bara per hari untuk memasok listrik wilayah Jabodetabek. Menurut Dedie, kebutuhan energi tersebut setara dengan sekitar enam unit PSEL.
"Sudah saatnya kita tidak lagi bergantung pada batu bara. Berbagai negara di Eropa, Asia Tengah, hingga Timur Tengah telah beralih dan mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi," ujar dia.
Menurut dia, teknologi PSEL menggunakan sistem filtrasi berlapis sehingga emisi yang dihasilkan dapat dikendalikan dan memenuhi prinsip pengembangan energi baru terbarukan.
Ia menilai pembangunan dua unit PSEL di Bogor tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan penggunaan batu bara di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, termasuk akibat berkembangnya kendaraan listrik.
Selain menghasilkan listrik, PSEL juga menjadi solusi pengelolaan sampah di Kota Bogor. Saat ini timbulan sampah di Kota Bogor mencapai sekitar 1.000 ton per hari. Sebanyak 700 ton di antaranya diangkut ke tempat pemrosesan akhir menggunakan 110 truk, sedangkan sisanya belum seluruhnya tertangani.
Dedie mengatakan pengelolaan sampah melalui PSEL akan dipadukan dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), sehingga residu yang tidak lagi memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!