Tren Sarapan Kuliner Kukus-Rebus Kian Diminati Anak Muda Perkotaan, Ini Alasannya!
📅 Rabu, 24 Jun 2026, 20:52 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Matahari baru saja menyembul di ufuk timur Jakarta, membawa hawa sejuk yang perlahan terkikis oleh riuh rendah langkah kaki para pekerja komuter. Di salah satu stasiun tersibuk di ibu kota, Ella (45) melangkah keluar dari gerbong kereta rel listrik (KRL) yang padat.
Sebagai seorang karyawati swasta yang sehari-hari beraktivitas di kawasan Sudirman, ritme pagi yang serba cepat sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Namun, belakangan ini ada satu ritual baru yang tak pernah dilewatkannya sebelum ke kantor.
Dia melipir sejenak ke arah kepulan asap hangat yang membubung dari sebuah lapak kuliner di sudut area stasiun. Di sana, berjejer rapi jagung manis, ubi jalar, kentang, telur, dan kacang tanah yang tampak mengepul matang. Ella mengeluarkan dompetnya. Hanya dengan beberapa belas ribu rupiah, dia sudah mendapatkan seporsi jagung manis dan ubi kukus hangat untuk sarapan sebelum memulai rutinitas kerja yang padat.
"Alasan utamanya tentu kesehatan," ujar Ella saat berbincang dengan Xinhua di Jakarta pada Jumat (19/6) mengenai kebiasaan barunya itu. Ditanya tentang pilihannya, dia mengaku metabolisme tubuhnya di usia kepala empat sudah banyak berubah.
"Jujur di usia saya yang sudah 40 plus ini, metabolisme tubuh kan sudah gak kayak dulu lagi. Harus pintar-pintar kurangi gorengan dan makanan tinggi minyak atau gula. Makanan kukus dan rebus begini kan alami, minim proses, jadi merasa lebih aman saja di badan. Selain itu, ubi atau jagung itu seratnya tinggi, jadi kenyangnya awet tapi gak bikin begah," tambah wanita yang bekerja di sebuah institusi pendidikan di Jakarta itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Foto menunjukkan lapak makanan kukus dan rebus yang ada di sebuah stasiun kereta rel listrik (KRL) di Jakarta pada 19 Juni 2026. (Xinhua/Ferdi)
Bagi pekerja komuter seperti Ella, kepraktisan adalah segalanya. Membeli rebusan di stasiun tidak memakan waktu lama karena pedagang sudah siap mengemasnya, makanannya bersih, dan tidak membuat tangan berminyak. Dari segi ekonomi, harganya pun sangat ramah di kantong, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi. Jauh lebih hemat dan sehat dibandingkan membeli kopi susu kekinian atau camilan di kafe mal dekat kantornya.
Peluang pasar dari meningkatnya kesadaran kesehatan kaum urban ini ditangkap dengan cerdik oleh para pelaku usaha mikro di area transportasi publik. Salah satunya adalah Hartono (48), pemilik lapak yang berlokasi di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Berjualan sejak akhir tahun 2022, tepat saat pembatasan pandemi mulai dicabut, Hartono menyaksikan sendiri bagaimana stasiun KRL menjelma menjadi episentrum perputaran ekonomi baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Alasan saya berjualan makanan kukus dan rebus ini sebenarnya cukup taktis," ujar Hartono kepada Xinhua di Jakarta pada Jumat yang sama. Menurutnya, modal minyak goreng yang sempat naik-turun menjadi pemicu awal. Selain itu, gorengan cenderung kurang menarik jika sudah dingin. Ini berbeda dengan sistem kukus atau rebus di mana makanan selalu hangat di dalam dandang, sehingga aromanya terus menggugah selera.
Variasi menu yang ditawarkan Hartono terbilang lengkap agar pembeli tidak bosan, antara lain jagung manis rebus, kacang tanah rebus, ubi kukus, telur rebus, singkong rebus, dan talas rebus.
Dengan harga yang dipatok bersahabat, mulai Rp5.000 hingga Rp15.000, lapak Hartono kerap dipadati antrean panjang, terutama pada jam padat pulang kerja. Omzet hariannya pun terbilang menggiurkan. Pada hari kerja, dia mampu mengantongi Rp800.000 hingga Rp1,2 juta per hari.
"Tren sehat ini menurut saya bukan musiman, tapi sudah jadi kebutuhan orang kota yang sibuk," tuturnya dengan nada optimistis.
Meskipun makanan rebusan identik dengan kuliner tradisional atau konsumsi generasi tua, survei terbaru dari salah satu media daring nasional menunjukkan adanya perubahan. Menurut survei IDN Research Institute dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 yang dimuat IDN Times, makanan rebus dan kukus kian populer di kalangan anak muda Indonesia.
Sebanyak 85,2 persen dari 628 responden dari generasi milenial dan generasi Z pernah membeli makanan rebus atau kukus sebagai pengganti camilan dalam enam bulan terakhir. Sementara, sebanyak 25 persen mengonsumsinya secara rutin dan 47 persen lainnya mengonsumsi makanan rebus atau kukus setidaknya sekali dalam sepekan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!