Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tren Sarapan Kuliner Kukus-Rebus Kian Diminati Anak Muda Perkotaan, Ini Alasannya!

📅 Rabu, 24 Jun 2026, 20:52 WIB | Oleh:

Survei tersebut juga mengungkapkan alasan utama responden memilih makanan rebus dan kukus adalah demi kesehatan. Sebanyak 56,3 persen responden memilih makanan rebus atau kukus karena lebih sehat dan membantu menghemat pengeluaran.

Tren ini berjalan beriringan dengan maraknya kampanye gaya hidup sehat, gerakan berkebun mandiri di rumah (grow your own food), serta meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda urban. Bagi mereka, mengonsumsi makanan minim proses (minimally processed food) bukan sekadar urusan diet, melainkan bagian dari identitas gaya hidup yang modern dan bertanggung jawab.

Melihat fenomena mengurangi konsumsi gorengan dan makanan berminyak pada pagi hari yang kian populer, freelance nutritionist Milda Hasna, S.Gz. (25) memberikan catatan penting. Dia memandang tren ini sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan rendah kalori dan rendah lemak jenuh. Namun, dirinya mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam rasa bersalah berlebih atau menghindari minyak secara ekstrem.

"Secara ilmu gizi, asupan lemak tetap harus dipenuhi oleh setiap individu. Mengurangi asupan lemak secara berlebihan tanpa perhitungan justru merugikan tubuh," jelas Milda dalam wawancara dengan Xinhua pada Minggu (21/6). Dampak jangka panjang dari eliminasi lemak secara total meliputi gangguan penyerapan vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, K), ketidakseimbangan produksi hormon, hingga kekurangan energi kronis yang dapat mengganggu metabolisme tubuh

Menurut Milda, ada empat panduan penting untuk memulai tren makanan kukus dan rebus ini. "Yang pertama, perhatikan variasi makanan. Mayoritas menu rebusan di pasaran didominasi karbohidrat, seperti ubi, singkong, jagung, kentang. Penting untuk menambahkan sumber protein seperti telur rebus, tahu, tempe, atau kacang kedelai rebus agar sarapan menjadi seimbang," paparnya.

Panduan yang kedua adalah mencukupi kebutuhan serat. Kita bisa menambahkan konsumsi buah potong atau pecel sayur sebagai pelengkap hidangan, imbuhnya.

"Yang ketiga, batasi cocolan tinggi kalori. Hindari penggunaan saus kemasan atau mayones secara berlebihan yang justru merusak esensi sehat dari makanan kukus-rebus," kata Milda.

Panduan yang terakhir menurut Milda adalah harus selektif dan higienis. Untuk menghindari risiko gangguan pencernaan atau keracunan, kita harus memperhatikan kebersihan tempat berjualan dan kesegaran makanan.

Salah satu alasan utama mengapa orang menyerah di tengah jalan saat mengonsumsi makanan rebusan adalah rasanya yang cenderung hambar. Milda menyarankan pemanfaatan rempah-rempah alami seperti bawang putih, bawang merah, jahe, kemiri, lada, ketumbar, daun jeruk, dan daun salam.

Selain mendongkrak cita rasa, rempah tersebut kaya akan antioksidan. Penggunaan garam dan kaldu bubuk pun diperbolehkan, asalkan ditaburkan setelah masakan matang agar rasanya lebih pekat dan kuantitasnya bisa ditekan.

Bagi penderita diabetes yang kerap memanfaatkan umbi rebusan karena indeks glikemik (GI) yang lebih bersahabat, Milda mengingatkan untuk tetap memperhatikan beban glikemik (glycemic load) atau porsi yang dikonsumsi agar tidak memicu lonjakan gula darah.

"Penderita diabetes dianjurkan menerapkan konsep 3 TJ. Pertama, tepat jenis dalam memilih karbohidrat dengan GI rendah dibanding karbohidrat kompleks olahan. Kedua, tepat jumlah dalam mengontrol porsi makanan dan mengimbanginya dengan porsi protein serta serat yang adekuat. Dan, ketiga, tepat jam dalam mengatur waktu makan secara konsisten demi menjaga kestabilan kadar glukosa darah," urainya.

Pada akhirnya, metode memasak dengan cara dikukus atau direbus memang sangat dianjurkan, terutama bagi individu yang sedang mengontrol berat badan karena dapat memangkas asupan kalori dari minyak secara signifikan. Namun, penurunan berat badan yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan faktor lain seperti olahraga, kualitas tidur, tingkat stres, dan kecukupan air putih.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Mau Suvenir dari Istana? In...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.