Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Terapi Gen dan Gunting Molekuler, Buka Harapan Baru Kesembuhan HIV

📅 Rabu, 22 Jul 2026, 07:27 WIB | Oleh:
Terapi Gen dan Gunting Molekuler, Buka Harapan Baru Kesembuhan HIV Doc: Michael LOUELLA / Michael LOUELLA / AFP
Ket. Seorang pria asal Amerika SerikatTimothy Ray Brown di rumah perawatan pada 8 Agustus 2020 di Palm Springs, California. Timothy Ray Brown, warga Amerika yang pernah dikenal sebagai "pasien Berlin" yang pada tahun 2008 menjadi orang pertama yang sembuh dari HIV.

UPAYA menemukan obat yang benar-benar mampu menyembuhkan HIV terus menunjukkan perkembangan signifikan. Para ilmuwan kini semakin optimistis bahwa terapi gen, teknologi penyuntingan DNA menggunakan “gunting molekuler”, hingga rekayasa sistem kekebalan tubuh dapat menjadi jalan menuju kesembuhan atau remisi jangka panjang bagi jutaan orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia.

Optimisme tersebut mengemuka dalam Conference on Cell & Gene Therapy for HIV Cure yang digelar oleh Fred Hutchinson Cancer Research Center di Amerika Serikat. Pertemuan tersebut mempertemukan para pakar HIV, peneliti kanker, ahli transplantasi sel punca, serta aktivis HIV/AIDS untuk membahas berbagai strategi terbaru dalam mengembangkan terapi yang lebih aman, terjangkau, dan dapat diterapkan secara luas.

Fokus utama konferensi adalah bagaimana menerjemahkan satu-satunya kasus kesembuhan HIV yang telah diakui dunia menjadi terapi yang dapat digunakan secara luas tanpa memerlukan prosedur transplantasi yang sangat berisiko.

Penelitian mengenai penyembuhan HIV banyak terinspirasi dari kasus Timothy Ray Brown, yang dikenal sebagai “Berlin Patient”. Pada tahun 2008, Brown menjalani dua kali transplantasi sumsum tulang untuk mengobati leukemia mieloid akut yang dideritanya.

Dokter memilih donor yang memiliki dua salinan mutasi gen langka CCR5-delta32, yaitu mutasi alami yang membuat sel-sel kekebalan tubuh menjadi kebal terhadap sebagian besar jenis virus HIV.

Setelah transplantasi, HIV tidak lagi terdeteksi dalam tubuh Brown. Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi satu-satunya contoh penyembuhan total atau sterilizing cure yang berhasil dibuktikan.

Namun, para ilmuwan sepakat bahwa metode tersebut terlalu berbahaya untuk diterapkan pada sebagian besar pasien HIV. Transplantasi sumsum tulang hanya layak dilakukan apabila pasien juga menderita kanker yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, para peneliti kini mencari cara yang lebih aman dengan memodifikasi sel kekebalan tubuh pasien sendiri melalui terapi gen.

Virus Bersembunyi

Salah satu hambatan utama dalam menyembuhkan HIV adalah kemampuan virus untuk bersembunyi di dalam sel-sel tubuh dalam kondisi tidak aktif (latent reservoir). Virus yang sedang “tertidur” tersebut tidak dapat dijangkau oleh obat antiretroviral (ARV). Akibatnya, meskipun terapi ARV mampu menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi, HIV akan kembali berkembang apabila pengobatan dihentikan.

Para ilmuwan menggambarkan tantangan tersebut dengan analogi yang menarik. Profesor mikrobiologi dari University of California Los Angeles (UCLA), Dr. Jerry Zack, mengatakan bahwa mencari satu sel yang menyimpan HIV laten ibarat menemukan satu orang di antara penonton yang memenuhi sebelas stadion Rose Bowl.

Sementara itu, Dr. Timothy Henrich dari University of California San Francisco mengibaratkannya seperti permainan mencari tokoh dalam buku anak-anak “Where’s Waldo?”, karena para peneliti harus menemukan satu virus yang tersembunyi di antara jutaan sel lainnya.

Tantangan itu bahkan semakin besar karena satu sel saja yang lolos dari pengobatan sudah cukup untuk membuat HIV kembali berkembang. Berdasarkan pemodelan matematika, bila hanya mengandalkan terapi antiretroviral, tubuh diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 73 tahun untuk menghilangkan seluruh virus laten secara alami.

Remisi Jangka Panjang

Karena sulit menghilangkan seluruh virus dari tubuh, sebagian ilmuwan kini lebih memfokuskan penelitian pada pencapaian functional cure atau remisi jangka panjang. Dalam kondisi tersebut, pasien tidak lagi membutuhkan obat setiap hari, virus tetap terkendali dan tidak menimbulkan penyakit, serta memiliki risiko penularan yang sangat rendah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Olahraga
Bayern Muenchen Buktikan Ke...
Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

22 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.