Hadapi El Nino, BMKG Ajak Masyarakat Hemat Air
📅 Minggu, 21 Jun 2026, 18:52 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat waspada bencana hidrometeorologi dampak dari El Nino. Fenomena El Nino bersamaan dengan musim kemarau yang menyebabkan kondisi di Indonesia lebih kering dan panjang.
Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari, mengatakan El Nino membuat curah hujan di Indonesia berkurang yang diikuti oleh dampak lanjutan atau dampak turunan. Di antaranya, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga menurunnya kualitas udara akibat meningkatnya polusi.
Dampak lainnya tidak optimalnya operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) akibat level air waduk yang menyusut. Bahkan kekeringan ekstreem karena menyusutnya sumber air.
"El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-ratanya. Dampak yang perlu diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi kering, yaitu kekeringan dan karhutla," kata Supari, Minggu (20/6).
Ia menjelaskan, berkurangnya curah hujan terutama umumnya pada periode Juni hingga November 2026. El Nino 2026 saat ini telah aktif dan diprediksi akan berlangsung hingga awal 2027.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, lanjut dia, dampak El Nino di Indonesia, tidak seragam atau berbeda-beda di masing-masing wilayah. Di sejumlah wilayah masih di jumpai hujan namun jauh di bawah normal terutama periode Agustus-Oktober.
Wilayah tersebut di antaranya Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan. Kemudian, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Oleh sebab itu, Supari meminta pemerintah dan masyarakat mengambil upaya mitigasi apalagi musim kemarau kali ini periodenya lebih lama. Salah satunya, dengan berhemat air apalagi masih didapati hujan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dalam skala yang lebih luas, pemerintah baik pusat maupun daerah perlu memastikan embung atau waduk tetap terisi air dan irigasi teknis berfungsi dengan baik. Selain itu, langkah lain yang dilakukan adalah memperbanyak sumur dan pompa air," ucap dia.
Ia mengatakan, untuk sektor pertanian, masyarakat perlu memilih komoditas yang lebih tahan kekeringan pada musim tanam ketiga sehingga pasokan pangan tetap terjaga. Pemerintah daerah dapat menyiapkan pompa air untuk membantu petani mengatasi kekeringan di lahan pertanian.
"Pada sektor kebencanaan, masyarakat dan pemerintah diharapkan siaga atas potensi karhutla. Di sisi lain, kondisi kemarau dengan sifat lbih kering ini dapat dioptimalkan untuk peningkatan produksi tebu dan juga tambak garam," ujar dia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!