Wali Kota: Siaga Bencana Harus Menjadi Budaya Warga Bandung
📅 Sabtu, 01 Agu 2026, 19:05 WIB | Oleh: Ilham SudrajatBANDUNG - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meminta kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh dipandang sebagai persoalan teknis semata, tetapi harus menjadi budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat mengukuhkan Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Coblong di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jumat (31/7).
Menurut Wali Kota Farhan, Kota Bandung memiliki kerentanan terhadap berbagai potensi bencana, terutama karena berada di kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Lembang. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, dampak bencana di Kota Bandung dapat berpengaruh luas sehingga kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini.
"Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus berada dalam konteks kultural atau pembudayaan. Jangan dianggap sekadar persoalan teknis, tetapi harus menjadi kebiasaan masyarakat," ujar Wali Kota Farhan.
Ia mencontohkan, masyarakat perlu terbiasa mengetahui titik evakuasi, memahami langkah penyelamatan, serta memiliki kesadaran untuk saling membantu ketika terjadi bencana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wali Kota Farhan menilai, budaya siaga bencana tidak dapat dipisahkan dari nilai gotong royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia.
Menjaga Kota Bandung bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
"Gotong royong adalah budaya sekaligus kepribadian bangsa. Tugas menjaga kota ini bukan semata-mata tugas pemerintah, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada pola pikir individualistis yang hanya mengandalkan pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk saat terjadi bencana.
Menurut Wali Kota Farhan, partisipasi warga melalui berbagai organisasi kemasyarakatan seperti RT, RW, Posyandu, PKK, Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Taruna Siaga Bencana (Tagana), hingga Kampung Siaga Bencana merupakan wujud nyata semangat gotong royong yang harus terus dijaga.
"Warga jaga warga bukan sekadar slogan. Itu adalah kesepakatan hati untuk saling menjaga dan saling membantu ketika menghadapi berbagai persoalan," ujar dia.
Wali Kota Farhan juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan aksi nyata saat menghadapi keadaan darurat. Menurut dia, semangat saling membantu harus lebih diutamakan dibanding sekadar mendokumentasikan kejadian.
Ia meyakini masyarakat yang memiliki budaya gotong royong akan memiliki resiliensi atau daya lenting yang lebih kuat ketika menghadapi bencana.
Karena itu, keberadaan Kampung Siaga Bencana dinilai menjadi sarana penting untuk melembagakan semangat gotong royong melalui sistem yang terencana, terstruktur, dan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!