Merawat Jembatan Ampera sebagai Tempat Wisata Ramah Wisatawan
📅 Minggu, 14 Jun 2026, 16:15 WIB | Oleh: SujarKawasan bebas kendaraan ini dengan apik dibagi menjadi dua zona, yakni zona kebugaran yang menjadi ruang bagi mereka yang ingin berlari, jalan santai, atau sekadar menghirup udara segar pagi hari di atas sungai.
Zona ekonomi kreatif, yakni area khusus yang menghadirkan denyut nadi UMKM lokal. Di sini, wisatawan bisa berolahraga, sekaligus memanjakan lidah dengan kuliner khas Palembang atau berburu kerajinan tangan lokal.
Melalui harmoni antara ketegasan menjaga keamanan dan kelembutan dalam menata ruang publik, Jembatan Ampera, kini bukan lagi sekadar tempat melintas yang nyaman. Ia telah kembali menjadi rumah yang ramah, tempat di mana senyum wisatawan dan geliat ekonomi warga lokal menyatu di bawah langit Kota Palembang.
London Bridge
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya sangat bangga menjadi warga Sumatera Selatan, bisa menikmati kemegahan Jembatan Ampera, karena memang lagi ramai disebut netizen mirip dengan London Bridge," ujar Iqbal Khoir (26), wisatawan lokal asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel.
Dengan hadirnya negara lewat pemerintah daerah, kemegahan Jembatan Ampera lebih terasa saat malam hari. Jembatan ikonik itu menyuguhkan cahaya lampu yang bisa berubah-ubah, dari merah, ungu, hingga hijau.
Pengamat kebijakan publik Bagindo Togar menyebutkan upaya Pemkot Palembang menjadikan Ampera sebagai objek wisata yang lebih menarik bisa dilakukan dengan menjadikannya sebagai landmark, seperti di Malioboro, Yogyakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Konsekuensinya, jembatan itu ditutup, dan benar-benar menjadi kawasan wisata, hanya diperbolehkan dilintasi kendaraan ramah lingkungan, seperti becak, pejalan kaki, dan pesepeda, hingga sentra usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Jembatan Ampera memang sudah menjadi idola sejak dahulu pertama kali dibangun, dengan nama awal Jembatan Bung Karno.
Sementara dengan kebijakan Pemkot Palembang membuat CFD setiap Minggu pagi, perlu dicarikan solusi dari kecenderungan timbulnya kepadatan lalu lintas di luar wilayah itu.
Hal itu karena Kota Palembang, tidak banyak memiliki jalan utama yang besar, seperti Jalan Sudirman, Basuki Rahmat, Kertapati, Arivai.
Sejarah Ampera
Sementara itu sejarah pembangunan Jembatan Ampera dimulai pada April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!