Efek Kenaikan BBM Nonsubsidi, 1 dari 10 Pengguna Pertamax Diperkirakan Pindah ke Pertalite
📅 Minggu, 14 Jun 2026, 18:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Migrasi konsumen dari Pertamax (RON 92) ke Pertalite setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi mencerminkan tingginya sensitivitas masyarakat terhadap perubahan harga energi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor biaya masih menjadi pertimbangan utama dalam keputusan konsumsi bahan bakar, terutama di tengah tekanan terhadap daya beli.
Di sisi lain, pergeseran konsumsi ke BBM bersubsidi berpotensi meningkatkan beban subsidi dan memperbesar tekanan terhadap anggaran energi pemerintah.
Jika tren ini berlangsung dalam jangka panjang, diperlukan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat, keberlanjutan fiskal, serta upaya mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan.
Pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti memperkirakan 10 persen dari konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) akan pindah ke Pertalite menyusul naiknya harga BBM nonsubsidi tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Belajar dari pengalaman April 2022, ketika Pertamax naik 39 persen dan sekitar satu dari delapan orang pembeli pindah ke Pertalite, kami perkirakan penjualan Pertamax turun sekitar 10 persen,” ujar Yayan ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu (13/6).
Yayan menyampaikan, ketika harga Pertamax naik, orang-orang tidak mengurangi intensitas bepergian, tetapi berpindah ke BBM Pertalite yang lebih murah.
Harga BBM jenis Pertamax (RON 92) yang sebelumnya Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, harga Pertalite stabil di level Rp10.000 per liter.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat ini, lanjut dia, selisih harga antara keduanya sebesar Rp6.250 per liter, terlebar dalam sejarah.
“Tetapi kuota Pertalite masih cukup untuk menampung perpindahan ini. Hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang akan terpakai,” ujar Yayan.
Lebih jauh, Yayan membedah bagaimana kenaikan Pertamax memengaruhi berbagai lapisan masyarakat. Pemilik mobil yang mengisi 100 liter Pertamax dalam satu bulan harus menambah sekitar Rp395 ribu per bulan.
Pengendara motor yang memakai 30 liter sebulan menambah sekitar Rp119 ribu.
Yayan membedah pengaruh kenaikan harga Pertamax berdasarkan sistem pemeringkatan kesejahteraan masyarakat yang digunakan pemerintah yang dibagi menjadi Desil 1–10.
Untuk kelompok rumah tangga Desil 1 atau kategori termiskin, Yayan menyampaikan tidak terlalu terpengaruh karena hampir tidak memakai Pertamax.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!