Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Reog Ponorogo: Bertahan Melintasi Generasi

📅 Minggu, 14 Jun 2026, 18:18 WIB | Oleh:
Reog Ponorogo: Bertahan Melintasi Generasi Doc: ANTARA/Muhammad Mada
Ket. Sejumlah pelajar SMP Negeri 2 Ponorogo menampilkan tarian Reog Ponorogo saat mengikuti Festival Reog Remaja di Alun-alun Ponorogo, Jawa Timur, Senin (8/6). Pemerintah daerah setempat menggelar agenda yang diikuti sedikitnya 24 grup reog remaja dengan pemain terdiri dari siswa-siswi SMP sebagai sarana pembinaan sekaligus upaya melestarikan kesenian.

SURABAYA - Di bawah bayang-bayang dadak merak yang menjulang, Reog Ponorogo selalu menghadirkan lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah kisah tentang identitas, ingatan kolektif, dan daya tahan budaya yang terus bergerak mengikuti zaman.

Ketika puluhan kelompok Reog berkumpul di Alun-Alun Ponorogo dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 pada 11–14 Juni 2026, yang dipertaruhkan bukan hanya gelar penyaji terbaik atau Piala Presiden. Hal yang sedang diuji adalah kemampuan sebuah warisan budaya untuk tetap hidup di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

FNRP tahun ini menjadi momentum penting. Sebanyak 32 kontingen dari berbagai daerah tampil dalam ajang yang telah memasuki penyelenggaraan ke-31. Kehadiran peserta dari Surabaya, Nganjuk, Wonogiri, Surakarta, hingga Palembang menunjukkan bahwa Reog tidak lagi sekadar milik Ponorogo. Ia telah menjelma menjadi simpul budaya yang menghubungkan berbagai daerah melalui satu kesenian yang sama.

Momentum tersebut semakin bermakna setelah Reog Ponorogo memperoleh pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pengakuan internasional itu membawa kebanggaan, sekaligus tanggung jawab besar. Sebab, pengakuan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari pekerjaan panjang menjaga keberlanjutan tradisi.

Dalam konteks itulah FNRP menjadi lebih relevan. Festival bukan sekadar panggung kompetisi tahunan, melainkan instrumen pelestarian yang konkret. Ia mempertemukan para pelaku budaya, membuka ruang regenerasi, sekaligus memperkuat ekosistem seni yang menopang keberlangsungan Reog.

Regenerasi budaya

Menariknya, peta kekuatan peserta beberapa tahun terakhir memperlihatkan fenomena yang patut dicermati. Banyak kelompok terbaik justru berasal dari lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Nama-nama kontingan, seperti SMA Muhammadiyah Ponorogo, SMAN 1 Ponorogo, Universitas Brawijaya, hingga UIN Kiai Ageng Muhammad Besari menunjukkan bahwa generasi muda mulai mengambil alih tongkat estafet pelestarian.

Fenomena ini memberikan harapan. Banyak warisan budaya di berbagai negara menghadapi persoalan serius berupa menurunnya minat generasi muda. Tradisi menjadi semakin tua karena pelakunya tidak bertambah. Namun, yang terjadi pada Reog menunjukkan gejala berbeda.

Keterlibatan pelajar dan mahasiswa menandakan bahwa Reog berhasil menyeberangi batas generasi. Seni yang lahir ratusan tahun lalu mampu diterjemahkan ulang oleh anak-anak muda yang hidup di era media sosial dan kecerdasan buatan.

Namun, regenerasi tidak boleh dimaknai sekadar penambahan jumlah pemain. Tantangan sebenarnya adalah memastikan para generasi muda memahami makna yang terkandung di balik setiap gerak tari, iringan gamelan, kostum, hingga filosofi tokoh-tokoh dalam Reog.

Di sinilah pentingnya festival yang tidak hanya menilai aspek teknis pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan budaya. Ketika seorang pelajar mempelajari karakter Warok atau memahami simbolisme Singobarong, sesungguhnya ia sedang belajar tentang sejarah, nilai kepemimpinan, keberanian, dan identitas daerahnya.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan pelestarian budaya bergantung pada kemampuan menjadikan tradisi relevan bagi generasi baru. Jepang berhasil mempertahankan teater Kabuki karena terus membuka ruang bagi generasi muda. Korea Selatan mengembangkan budaya tradisional menjadi bagian dari diplomasi budaya global. Indonesia pun memiliki peluang serupa melalui Reog.

Karena itu, langkah Ponorogo yang menggelar Festival Reog Remaja berdampingan dengan FNRP merupakan strategi yang tepat. Regenerasi tidak boleh menunggu. Ia harus disiapkan sejak dini melalui ruang apresiasi dan kompetisi yang sehat.


Ekonomi kebudayaan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Final Ideal Piala AFF, Vietnam Bersiap Ngluruk ke Thailand
    Preview komentar:
    skuad "gajah perang" sepertinya unggul, mrk diuntungkan sbg ...
  • Airlangga: Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Berbasis Tenaga Surya
    Preview komentar:
    Langkah strategis pemerintah menargetkan 100 GW tenaga surya ...
  • Badan Pangan Nasional Usul Tambahan 150 Ribu Ton SPHP Jagung Perkuat Peternak Mikro
    Preview komentar:
    Kebijakan strategis Bapanas mengusulkan tambahan 150 ribu ton ...
Daerah
Korban Gempa M 7,7 NTT Bert...
Daerah
Tim Satgas Bencana ITS Pant...
Olahraga
Victor Wembanyama Menjadi K...
Daerah
Upaya pemulihan ekosistem p...
Ekonomi
Kobexindo Perkuat Jajaran P...

Kirab Gamelan Sekaten di Solo

2 jam lalu | Wahyu AP

Daerah
Kirab Gamelan Sekaten di Solo
Ruben Onsu Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan & Penggelapan Investasi, Ini Kronologinya!

Ruben Onsu Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan & Penggelapan Investasi, Ini Kronologinya!

20 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.