Kemampuan Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca
📅 Rabu, 10 Jun 2026, 23:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Semarang - Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin mengatakan bahwa kemampuan literasi tidak hanya berarti sekadar bisa membaca, namun juga mampu memahami.
"Bagaimana kita membaca sesuatu, kita paham makna yang dibaca. Menumbuhkan daya kritis dan daya kreatif kita untuk memahami dan melaksanakan," katanya, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu.
Hal tersebut disampaikannya saat Konferensi Internasional Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (Adobsi) 2026 bertemu "Transformasi Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Pendidikan dan Teknologi: Perspektif Interdisipliner" di Kantor Balai Bahasa Jawa Tengah, Kabupaten Semarang.
Bahkan, kata dia, literasi lebih jauh juga menyangkut pada kemampuan untuk mengkritisi atau menguji kebenaran bacaan, misalnya adanya tulisan larangan membuang sampah sembarangan.
Secara harfiah, kata dia, mungkin orang bisa membaca adanya larangan membuang sampah sembarangan, tetapi banyak yang sebatas membacanya dan masih saja membuang sampah di situ.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jadi ada olah baca, olah pikir, dan olah tindak gitu ya. Saat itu sudah dipahami oleh kita pasti akan mencerminkan bahwa masyarakat kita sudah memiliki literasi yang tinggi," katanya.
Untuk meningkatkan literasi masyarakat, kata dia, Badan Bahasa membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya Adobsi yang nantinya mendidik guru-guru Bahasa Indonesia.
Ia mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan peran serta dosen bahasa dan sastra Indonesia dalam mendukung program-program pembangunan kebahasaan, kesastraan, dan peningkatan literasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Tentu Adobsi memiliki peran yang sangat strategis untuk membekali calon-calon guru. Sejatinya guru-guru yang mengajar di satuan pendidikan SMA, SMP, SD, itu kan berasal dari perguruan tinggi, khususnya guru Bahasa Indonesia," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Adobsi Dr. Wati Istanti menjelaskan bahwa konferensi tersebut memang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan calon guru bahasa dan sastra Indonesia.
"Karena tugas kami adalah mendidik ataupun mengajarkan Bahasa Indonesia kepada mahasiswa yang nantinya mereka menjadi guru," katanya.
Kemudian, kata dia, berkaitan juga dengan kemahiran berbahasa Indonesia dalam tiga aspek penting, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan diturunkan kepada mahasiswa yang akan menjadi guru nantinya.
Beberapa pembicara dari luar negeri juga diundang dalam kegiatan itu, seperti dari Yale University AS, University of Melbourne Australia, dan University of Social Science and Humanities Vietnam.
Di universitas-universitas tersebut, kata dia, ada pembelajaran Bahasa Indonesia, bahkan seperti di Vietnam yang Bahasa Indonesia sudah seperti menjadi bahasa kedua.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!