BPOM Resmikan Laboratorium Farmakologi Sido Muncul, Perkuat Riset Jamu dan Obat Herbal Berbasis Sains
📅 Selasa, 09 Jun 2026, 20:33 WIB | Oleh: Sriyono“Yang paling penting bagi kami adalah mendapatkan bukti. Kami ingin tahu produk kami baik atau tidak baik berdasarkan penelitian, bukan berdasarkan opini,” kata Irwan.
Ia mengakui perkembangan media sosial menghadirkan tantangan baru bagi industri herbal karena informasi yang belum tentu benar sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan hasil penelitian ilmiah.
“Produk yang sudah mendapat izin BPOM, sudah diuji toksisitas dan khasiatnya, kadang masih kalah dengan informasi di media sosial. Karena itu kami ingin punya data dan bukti ilmiah yang kuat,” ujarnya.
Menurut Irwan, laboratorium tersebut akan menjadi pusat pembuktian ilmiah bagi berbagai produk herbal yang dikembangkan perusahaan. Melalui fasilitas itu, berbagai klaim manfaat suatu bahan atau produk dapat diuji secara objektif melalui penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau ada produk yang diklaim bisa mengatasi suatu penyakit, kami bisa langsung mengujinya. Kalau memang tidak terbukti, kami juga akan tahu hasilnya,” jelasnya.
Naik Kelas
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah dr. Zulfachmi Wahab mengatakan Jawa Tengah merupakan salah satu pusat industri obat tradisional terbesar di Indonesia dengan lebih dari 800 sarana produksi yang tersebar di berbagai daerah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, Laboratorium Farmakologi Sido Muncul menjadi jembatan penting antara warisan jamu tradisional dengan tuntutan industri kesehatan modern yang berbasis sains dan pembuktian ilmiah.
“Kami ingin melihat lebih banyak produk herbal naik kelas menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka yang diakui secara ilmiah,” katanya.
Ia berharap fasilitas tersebut dapat menjadi pusat kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian dalam mengembangkan inovasi berbasis bahan alam Indonesia.
BPOM sendiri saat ini terus mendorong model kolaborasi Akademisi, Bisnis, dan Government (ABG) guna mempercepat hilirisasi hasil penelitian. Melalui sinergi tersebut, inovasi yang lahir dari kampus dapat dikembangkan lebih lanjut oleh industri hingga menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Taruna meyakini kolaborasi tersebut akan mempercepat pemanfaatan potensi bahan alam Indonesia yang diperkirakan memiliki nilai ekonomi hingga Rp350 triliun.
“Potensi bahan alam Indonesia sangat besar. Karena itu, sinergi antara kampus, industri, dan pemerintah perlu diperkuat agar potensi tersebut bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!