Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Tembus Rp18.000, Gas Mahal, Impor China Tak Terbendung, Industri Plastik Kian Terjepit

📅 Jumat, 05 Jun 2026, 17:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai industri petrokimia saat ini menghadapi tiga tekanan besar secara bersamaan, yakni lonjakan harga bahan baku global, pelemahan rupiah, dan persoalan pasokan gas industri.

Menurut Yusuf, konflik di Timur Tengah telah mendorong harga nafta melonjak lebih dari 50% dibandingkan sebelum ketegangan memanas. Kondisi itu diperparah oleh pelemahan nilai tukar yang meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi.

"Industri petrokimia Indonesia saat ini menghadapi tiga tekanan besar yang datang secara bersamaan dan saling memperkuat. Pertama, harga bahan baku global melonjak. Kedua, rupiah melemah hingga berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Ketiga, harga gas industri yang selama ini dianggap sebagai penyangga daya saing justru belum sepenuhnya memberikan perlindungan bagi pelaku industri," ujar Yusuf.

Menurutnya, persoalan utama gas industri bukan hanya soal harga yang tercantum dalam kebijakan HGBT, melainkan keterbatasan pasokan yang diterima industri.

"Realisasi alokasi gas HGBT masih jauh dari kebutuhan industri sehingga sebagian perusahaan harus membeli gas regasifikasi dengan harga yang bisa mencapai hampir tiga kali lipat," kata Yusuf.

Akibat kombinasi berbagai tekanan tersebut, harga produk plastik domestik mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Namun ruang untuk menaikkan harga juga semakin terbatas karena kondisi daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

"Dampaknya sudah terlihat dari kenaikan harga plastik domestik yang mencapai sekitar 40 hingga 60 persen pada April 2026," ujarnya.

Di tengah tekanan yang ada, Yusuf menilai tambahan kapasitas produksi dari kompleks petrokimia baru di dalam negeri dapat membantu mengurangi sebagian ketergantungan impor. Meski demikian, perbaikan tersebut belum cukup untuk mengatasi persoalan struktural industri.

"Fokus kebijakan tidak cukup hanya menjaga harga gas tetap rendah, tetapi juga memastikan ketersediaan pasokannya," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mau Meliput Krakatau, 5 Wartawan “Hilang” Sudah Ditemukan, Mampir di Pulau yang Susah Sinyal
    Syukurlah ....
  • Abu Vulkanik Masih Bisa Menembus Masker N95, Kecuali Diberi Tambahan
    Pantesan negara ga maju2, profesor UI lohhhh , ...
  • BTN Dorong Industri Kopi Indonesia Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Digitalisasi
    Langkah luar biasa dari BTN dalam menginisiasi kolaborasi ...
  • OJK Bubarkan 58 Dana Pensiun, Ada Apa dengan Industri Pensiun RI?
    Meskipun terdapat pembubaran puluhan dana pensiun pemberi kerja, ...
  • Kini Deli Serdang Kembangkan Industri Jamur Menggunakan Elektrifikasi, Bisa Ditiru
    Inisiatif pemanfaatan teknologi elektrifikasi melalui mesin pengaduk media ...
Luar Negeri
Yen Boleh Loyo, Tapi PDB Je...
Luar Negeri
Houthi Bakar Fasilitas Ener...

Panen raya bawang merah di Nganjuk

4 jam yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Panen raya bawang merah di ...
Advertisement
Gubernur DKI: PJJ Jakarta Berakhir, Sekolah Kembali Normal Besok

Gubernur DKI: PJJ Jakarta Berakhir, Sekolah Kembali Normal Besok

08 Sep 2026
Pilihan Pembaca
# 4
# 4
Wapres Sara Duterte Bayar Uang Jaminan
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.