Rupiah Tembus Rp18.000, Gas Mahal, Impor China Tak Terbendung, Industri Plastik Kian Terjepit
📅 Jumat, 05 Jun 2026, 17:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Industri petrokimia dan plastik nasional menghadapi tekanan berlapis pada tahun ini. Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS, lonjakan harga bahan baku global, kenaikan harga gas industri, hingga banjir produk impor murah dari China menjadi kombinasi yang menggerus daya saing pelaku usaha dalam negeri.
Kondisi tersebut terjadi ketika industri masih berupaya menjaga tingkat produksi dan mempertahankan pasar domestik dari gempuran barang impor yang terus meningkat.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan gas merupakan komponen penting dalam industri petrokimia, khususnya pada proses cracker dan polimerisasi. Menurutnya, selama skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) masih berjalan di kisaran US$6-7 per MMBTU, industri relatif mampu menjaga daya saing.
"Dengan HGPT dulu itu kita sebenarnya sangat terbantu karena kita bisa mampu bersaing dengan para impor di mana utilisasi kita sedikit terbantu dengan harga gas yang murah 6-7 US dolar. Tapi sekarang penawarannya sudah di atas rata-rata di atas 15 sampai bahkan 20 US dolar," kata Fajar kepada wartawan, Jumat (5/6).
Kenaikan biaya energi tersebut muncul saat persaingan regional semakin ketat. Di sejumlah negara ASEAN, harga gas industri masih berada di bawah US$9 per MMBTU. Sementara produsen China menikmati dukungan energi yang lebih murah serta ketersediaan bahan baku yang lebih besar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tekanan dari luar negeri juga semakin terasa melalui lonjakan arus impor produk plastik dan petrokimia. Barang dari China masuk ke pasar domestik dengan harga yang sulit ditandingi produsen lokal.
"China yang sekarang ini sangat masif masuk barangnya ke mana-mana. Ke Indonesia pun juga sekarang sudah kita perkirakan barang dari China itu bisa sampai 300 ribu ton per tahun," ujar Fajar.
Situasi tersebut memaksa produsen dalam negeri mengorbankan margin demi mempertahankan pasar. Sejumlah pabrik bahkan mulai menyesuaikan tingkat utilisasi untuk menghindari tekanan yang lebih besar.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Bahkan kita sekarang sudah mencoba dengan 75% utilisasi, kita mencoba sedikit di bawah harga China. Jadi kita menggerus margin lumayan cukup besar," katanya.
Di sisi lain, tekanan nilai tukar membuat kondisi semakin rumit. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku meningkat. Namun kenaikan biaya tersebut tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke harga jual karena pasar dibanjiri produk impor murah.
"Jadi ada dua hal ya. Dari sisi pelaku industri hulu memang kita kan pass-through aja. Tetapi dengan banjirnya barang impor, kita tidak bisa pass-through karena kita mau enggak mau harus turunkan harga," ujarnya.
Tekanan tersebut juga dirasakan pelaku industri hilir atau converter yang sempat mengimpor bahan baku ketika harga masih tinggi. Saat barang tiba di Indonesia, harga pasar justru mengalami koreksi tajam sehingga margin usaha ikut tertekan.
Kekhawatiran kini mulai bergeser dari sekadar penurunan margin menuju ancaman perlambatan produksi. Jika tekanan biaya terus berlanjut, pengurangan jam kerja hingga perumahan karyawan menjadi opsi yang mulai diperhitungkan perusahaan.
"Kalau ini tetap dilakukan dengan harga baru di atas 15 US dolar, ini sudah dekat. Tadinya kita antisipasi masih jauh untuk merumahkan karyawan," kata Fajar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!