Rupiah Hari Ini Kehilangan Tenaga, Bayang-Bayang Geopolitik dan Inflasi Bikin Pasar Waspada
📅 Selasa, 02 Jun 2026, 17:07 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa sore mencerminkan masih kuatnya pengaruh sentimen eksternal dan domestik terhadap pergerakan pasar keuangan.
Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik mendorong investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi terbaru yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter dan suku bunga.
Kombinasi kedua faktor tersebut membuat pergerakan rupiah berada dalam tekanan, meskipun fundamental ekonomi Indonesia secara umum masih relatif terjaga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar tetap sangat bergantung pada perkembangan sentimen global serta respons kebijakan ekonomi domestik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Selasa (2/6) sore, ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen di level Rp17.839 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan kelemahan tersebut masih dipengaruhi sentimen kelanjutan ketidakpastian geopolitik dan rilis data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS).
Dari sisi eksternal, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.
Sebaiknya Anda baca juga:
Trump mengatakan dia tidak keberatan jika pembicaraan berakhir. Tetapi, tak lama kemudian, ia mengeluarkan unggahan di media sosial yang mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut.
Kepada ABC News, ia mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam minggu depan.
"Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi deeskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran. Iran secara efektif telah menghentikan hampir semua pengiriman non-Iran ke dan dari Teluk sejak perang dimulai, mencekik sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global dan mendorong harga naik 50 persen atau lebih," jelas Ibrahim.
Selain itu, Trump pada Senin (1/6/2026) menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi, kata Gedung Putih.
Proklamasi tersebut menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen.
Proklamasi tersebut menetapkan tarif 15 persen untuk peralatan industri bergerak, seperti buldoser dan forklift.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!